INSAN PENTAKOSTAL MENANGGAPI KEMAJUAN DAN PENGGUNAAAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE

Kemajuan dunia digital, terutama internet, adalah sebuah realita dan dinamika yang tidak dapat dibendung.  Efek dan dampaknya, baik positif maupun negatif, telah menjalar ke seluruh wilayah dunia dan merambah segala lapisan masyarakat, baik secara usia maupun secara klasifikasi kemampuan ekonomi, dunia sekuler maupun religi, termasuk kekristenan dimana aliran Pentakosta ada di dalamnya. 

Pandemi COVID-19 yang lalu telah mengakselerasi lebih cepat lagi penggunaan dan penerapan digital dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan bergereja dan pelayanan.  Pada masa itu Gereja dipaksa oleh situasi untuk masuk dalam pelayanan daring (online) atau hibrida (hybrid), seluruh bentuk pelayanan digital tetap diteruskan pada pasca-pandemi.  

Salah satu kemajuan yang signifikan yang terjadi pada masa pandemi dan sesudahnya adalah kebangkitan teknologi kecerdasan buatan, yaitu A.I. atau Artificial Intelligence.

Kemajuan A.I. dimulai pertama kali dengan munculnya program chatGPT yang dibuat berdasarkan platform OpenAI.  Saat ini sudah ratusan program berbasis A.I. yang aktif digunakan untuk berbagai keperluan.  Beberapa A.I. untuk kebutuhan gereja dan teologi, bahkan penggembalaan-pun telah tersedia saat ini.  Apa yang dimulai dengan satu program, hanya dalam waktu kurang dari lima tahun telah berkembang menjadi ratusan program berbasis A.I., dan hal ini akan masih terus bertambah serta berkembang pesat.  Sudah hampir tidak ada aspek kehidupan masyarakat dunia saat ini yang tidak tersentuh oleh perkembangan A.I. 

Penggunaan A.I. sendiri secara positif telah membantu banyak orang untuk mempermudah pekerjaan, studi, riset, dan sebagainya. Tetapi kita juga telah melihat tidak sedikit orang yang justru menggunakan A.I. untuk melakukan pekerjaan atau tanggung-jawab yang seharusnya mereka kerjakan sendiri, seperti memanipulasi skripsi atau memanipulasi interview kerja.  Beberapa kasus tragis bahkan terjadi dan mengguncangkan dunia, seperti: pada bulan Juni 2025, di Amerika Serikat seorang anak muda ditemukan tewas bunuh diri setelah ia berdiskusi dengan A.I. tentang bagaimana cara paling efektif bunuh diri. 

Di Kanada, pernah terjadi percakapan tidak terarah dengan A.I. sehingga mendorong pengguna A.I. mengalami delusional.  Dan masih banyak contoh lain; seperti jatuh cinta pada A.I., dan sebagainya di berbagai belahan dunia.  Tentu semua ini perlu mendorong kita untuk berpikir dan mengambil sikap terhadap kemajuan dan penggunaan teknologi, khususnya A.I.

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kita sebagai insan Pentakostal menyikapi kemajuan dan penggunaan A.I.?  Artikel ini akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan melihat perkembangan teknologi digital secara umum maupun menyoroti penggunaan A.I. secara spesifik. 

Tiga Posisi Gereja Terhadap Kemajuan Digital

Heidi Campbell, seorang Profesor bidang komunikasi dari Texas A&M University dan juga seorang teolog, serta beberapa teolog terkemuka di bidang agama, komunikasi dan teknologi digital, mengatakan bahwa teknologi digital dapat menciptakan platform online dan virtual yang bukan hanya memperlengkapi praktek-praktek religi dan spiritualitas secara konvensional/tradisional, namun juga menyediakan praktek-praktek religi dan spiritualitas terjadi pula di dunia digital.  Roh Kudus pun hadir dan bergerak dalam dan melalui platform digital. 

Billy Wilson, Global Chairman Empowered21, menyatakan bahwa kemajuan teknologi digital saat ini memungkinkan untuk kita menjangkau semua orang di dunia akan Injil Kristus dan mengalami perjumpaan yang autentik oleh kuasa Roh Kudus. 

Nicky Gumbel, pendiri Alpha Course, menegaskan bahwa Roh Kudus tidak terbatasi pada teknologi yang kita gunakan. Pemahaman-pemahaman diatas yang kerap dikatakan sebagai Digital Pneumatology.

Menggunakan pendekatan dari Wahyu 1-3, Campbell mengutarakan ada tiga posisi yang biasanya diambil oleh Gereja dalam menanggapi kemajuan teknologi:

        Luddite-ocia: menggambarkan gereja yang menolak teknologi digital karena takut akan dampak negatifnya. Gereja ini dipuji karena keinginannya menjaga kekudusan dan kepekaan rohani, namun ditegur karena menjadikan teknologi sebagai “musuh” yang dianggap tidak dapat ditebus. Ketakutan mereka justru menutup peluang misi serta kesaksian Injil di ruang digital. Pandangan ini juga disebut technophobia atau takut/menjauhi teknologi.

 Merujuk pada Yohanes 1:3 (“Segala sesuatu dijadikan melalui Dia …”), maka segala sesuatu—termasuk teknologi, termasuk A.I.—berada di bawah kedaulatan Kristus dan terbuka bagi penebusan/digunakan untuk kemuliaan-Nya.Sebenarnya tidak ada alasan untuk menjauhkan diri dari kemajuan teknologi dan A.I., justru harus memanfaatkannya untuk pelayanan dan pengabaran Injil.

        Technopolis: menggambarkan gereja yang dengan antusias mengadopsi teknologi demi relevansi dan jangkauan pelayanan. Gereja ini kreatif dan misioner, namun berisiko malah menjadikan teknologi sebagai penentu ibadah dan pelayanan. Ukuran keberhasilan bergeser dari buah rohani ke tolak ukur digital seperti “likes”, “views”, dan “shares”.  Pandangan ini juga disebut sebagai technophilia atau mencintai teknologi tanpa pertanyaan dan kritik.

Rasul Yohanes dalam 1 Yohanes 2:15–17 mengingatkan kita akan bahaya mencintai sistem dunia yang dapat menggantikan kasih mula-mula kepada Kristus.  Jangan sampai justru teknologi yang menjadi daya utama untuk melakukan pelayanan dan gaya hidup sehari-hari, namun seharusnya tetaplah kasih dan kebenaran Kristus dan pimpinan Roh Kudus yang menjadi daya dorong hidup kita.

        Mid-tech: model gereja yang paling sehat dan matang secara teologis. Gereja ini tidak menolak teknologi, tetapi juga tidak mengagungkannya. Mid-Tech mengakui bahwa teknologi kerap memang tidak netral, namun percaya bahwa Allah dapat menebus dan memakainya untuk kemuliaan-Nya.  Gereja ini menekankan discernment (hikmat untuk membedakan), doa, dan refleksi teologis sebelum mengadopsi inovasi digital ke dalam pelayanan.

Rasul Paulus mengingatkan kita melalui Roma 12:2, agar kita berupaya tidak menjadi serupa dengan pola dunia, melainkan terus diperbarui dalam cara berpikir dan bertindak.  Sebagaimana Paulus mengajarkan bagaimana jemaat pada waktu itu bernavigasi dengan benar pada masa kekaisaran Romawi, demikian juga kita harus bernavigasi dengan benar pada zaman teknologi digital dan A.I.

Menyikapi A.I. - Artifical Intelligence

Setelah memahami dan mempelajari hal-hal tersebut diatas, maka sebagai insan Pentakostal kita dapat mengambil sikap terhadap kemajuan teknologi, khususnya A.I. sebagai berikut:

1.      Insan Pentakostal tidak seharusnya menolak penggunaan teknologi, termasuk A.I., tetapi juga tidak boleh menyerahkan dirinya untuk dikendalikan oleh A.I. atau bersandar kepada apa yang A.I. hasilkan.

      Menyadari dengan baik segala yang baik berasal dari Allah (Yakobus 1:17) tetapi dapat menjadi rusak karena penggunaan yang salah oleh manusia (Yakobus 1:16), maka insan Pentakostal seharusnya tidak anti terhadap A.I. sekalipun efek samping negatif banyak terdeteksi dan terlihat jelas.  Namun, sebaliknya, menggunakan teknologi A.I. dengan baik, benar dan etis yang Alkitabiah.

A.I. tidak boleh membentuk sudut pandang teologi, tata ibadah, atau arah pemuridan kita.  A.I. boleh digunakan sebagai alat pendukung, tetapi arah spiritual, otoritas teologis, dan pembentukan iman harus tetap dipimpin oleh Roh Kudus, Alkitab, dan komunitas orang percaya yang dipenuhi Roh Kudus.

Penggunaan A.I. sangat membantu pekerjaan, studi dan pelayanan, namun bukan untuk menggantikannya.  A.I. bukanlah individual yang diurapi oleh Roh Kudus, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai otoritas dan pemberi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan-keputusan penting. 

Insan Pentakostal yang dipenuhi dan dipimpin Roh Kudus-lah yang harus menjadi pengambil keputusan oleh karena Roh Kudus yang bersemayam di dalam dirinya.  A.I. membantu dalam mengkompilasi dan menganalisa data-data, namun dibutuhkan hikmat untuk membedakan dari Roh Kudus (discernment) untuk memahami dengan bijak hasil-hasil karya A.I., termasuk penggunaannya.

2.      Insan Pentakostal Memiliki Kontribusi Unik Dalam Penggunaan A.I.

Harus dipahami bahwa A.I. adalah suatu kecerdasan buatan yang terus-menerus belajar dari penggunanya.  Teknologi ini berkembang sejauh mana kita mengekspos, mengisi dan memperbaiki apa yang ia pelajari.  Input yang A.I. dapatkan dari penggunanya, akan membentuk cara berpikir dan cara pandang dan respons A.I. tersebut.  Ini adalah sebuah teknologi yang perkembangan dan kemajuannya, termasuk cara berpikirnya tergantung kepada pemakainya.

Disinilah, menurut Campbell, insan Pentakostal dengan teologi Pentakostalnya --yang memiliki pemahaman baik tentang karunia-karunia Roh-- dapat menginput nilai-nilai Pentakostal saat menggunakan A.I. sehingga membentuk pemahaman dan cara pandang yang “Pentakostal”.  Iman Pentakostal itu sendiri, yang secara natural bersandar pemahaman Kristosentris (berpusat pada Kristus) yang kuat, dengan hikmat dari Roh Kudus dapat dengan tegas memutuskan kapan A.I. digunakan, kapan dibatasi, dan bahkan kapan ditolak.   Tanpa pemahaman teologi yang matang dapat membuat gereja dan jemaat berisiko mengadopsi mentah-mentah logika A.I. yang bisa jadi bertentangan dengan nilai-nilai Alkitabiah. 

Komunitas insan Pentakostal melalui komunitas-komunitas jemaat seperti COOL, menjadi wadah pemuridan yang perlu menanamkan secara benar dan dalam akan doktrin-doktrin dasar kekristenan dan iman Pentekostal, sehingga cara berpikir dan daya dorong jemaat tidak dikendalikan oleh teknologi dan A.I.  Jemaat tidak tergoyahkan secara teologis oleh karena memiliki dasar iman yang Alkitabiah, Kristosentris dan Pneumatis.

Kesimpulan          

Teknologi A.I. bukanlah ancaman yang harus ditakuti secara berlebihan, tetapi juga bukan solusi rohani atau pengganti yang boleh dinomorsatukan.  A.I. harus ditempatkan di bawah otoritas Kristus, diuji melalui kebenaran firman dan prinsip-prinsip yang Alkitabiah, serta digunakan dengan hikmat dan kepekaan dalam Roh Kudus, baik dalam kehidupan/pelayanan gereja dan insan Pentakostal sehari-hari. (CS).

___________________________________

Bibliografi

Campbell, Heidi A. “Lessons from Letters to the Churches in Digital Age: Why Pentecostalism Needs a Digital Theology”.  Asia Pentecostal Summit.  Singapore, 2025.

Jun, Guichun.  “Digital Pneumatology: Presence and Power of The Holy Spirit in the Metaverse.”  Dalam buku “Voices Loud & Clear”, diedit oleh Kong Hee, Byron D. Klaus dan Douglas Petersen.  Singapore: Regnum Books International, 2024.

Wilson, Billy.  “The Power of One: Reaching Every Person on Earth.”  Tulsa, OK: Oral Roberts University Press., 2023.

Share this Post: