KESELAMATAN OLEH ANUGRAH, NAMUN PERBUATAN TETAP PENTING

 KESELAMATAN OLEH ANUGRAH,

NAMUN PERBUATAN TETAP PENTING

I. PENDAHULUAN

Dalam kehidupan iman Kristen, banyak orang masih bingung memahami hubungan antara anugerah dan pekerjaan (perbuatan).[1]  Di satu sisi, Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah dan bukan hasil usaha manusia. Namun di sisi lain, Alkitab juga menekankan pentingnya ketaatan, perubahan hidup, dan kesetiaan dalam perjalanan iman.[2]  Ketegangan ini sering menimbulkan dua sikap yang keliru:

1.      ada yang hidup seolah-olah pekerjaan (perbuatan) tidak penting karena semuanya adalah anugerah, dan

2.      ada pula yang berjuang dalam ketaatan seolah-olah keselamatan sebagai tujuan yang harus terus diusahakan.[3]  

Melalui tulisan ini, kita diajak melihat bahwa Alkitab tidak pernah mempertentangkan anugerah dan pekerjaan (perbuatan).[4] Dengan menelusuri proses keselamatan yang mencakup pembenaran (justification), pengudusan (sanctification), dan pemuliaan (glorification), tulisan ini menegaskan bahwa keselamatan sepenuhnya dimulai oleh anugerah Allah, tetapi anugerah itu selalu menghasilkan kehidupan yang diubahkan[5], taat, dan setia sampai akhir oleh kuasa Roh Kudus.

 

Dengan pemahaman ini, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam anugerah yang aktif, iman yang nyata, dan ketaatan yang lahir dari kasih kepada Allah.

 

A.   Fenomena Pemahaman Keliru tentang Anugerah Keselamatan

Dalam kehidupan umat kristiani masa sekarang, istilah anugerah menjadi kata yang sangat akrab, namun ironisnya justru paling sering disalahpahami. Banyak orang Kristen berbicara tentang anugerah, mengajarkannya, bahkan membelanya dengan penuh semangat, tetapi tidak selalu memahami dampaknya secara utuh dalam kehidupan iman sehari-hari (bdk. Matius 7:21-23; Titus 1:16).

Keselamatan seringkali dipahami hanya sebagai status rohani: seseorang yang telah menerima Yesus dianggap sudah selamat, dan karena itu urusan keselamatan dianggap selesai. Keselamatan menjadi pengalaman masa lalu, bukan realitas yang terus dijalani (Filipi 2:12; 1 Korintus 1:18).  Akibatnya, kehidupan Kristen kehilangan dimensi proses dan pertumbuhan (2 Korintus 3:18). 

 

Dalam pemahaman seperti ini, anugerah berubah fungsi. Ia tidak lagi dipahami sebagai kuasa Allah yang mengubahkan hidup, melainkan sebagai jaminan keamanan rohani.  Anugerah seakan-akan menjadi “izin” untuk tidak berubah, tidak bertumbuh, dan tidak bertanggung jawab secara etis. Padahal dalam Alkitab, anugerah selalu berkaitan dengan pembaruan hidup. (Titus 2:11-12; Roma 6:1-2).

 

Ketakutan terhadap legalisme membuat banyak gereja dan pengajar Kristen enggan membicarakan tema ketaatan, pekerjaan (perbuatan), dan disiplin rohani. Setiap ajakan untuk hidup kudus atau taat sering dicurigai sebagai upaya kembali kepada keselamatan oleh usaha manusia. Reaksi ini, walaupun dimotivasi oleh keinginan menjaga kemurnian Injil, sering berujung pada ekstrem yang lain, yaitu hyper-grace di mana anugerah dipisahkan sama sekali dari tanggung jawab hidup (Roma 6:15; Yakobus 2:17). [6]

 

B.   Pandangan Umum di Kalangan Umat Kristen

Dalam praktik penggembalaan sehari-hari, pemahaman ini muncul dalam berbagai ungkapan sederhana, “Yang penting sudah percaya.” Atau “Keselamatan itu bukan soal pekerjaan (perbuatan).” dan“Kita kan hidup oleh anugerah.”

 

Ungkapan-ungkapan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi sering digunakan untuk membenarkan kehidupan iman yang tidak bertumbuh (bdk. Yakobus 2:17; Ibrani 5:12-14).[7]

 

Ketaatan dan kekudusan dipandang sebagai pilihan tambahan, bukan bagian penting dari kehidupan Kristen (Ibrani 12:14). Akibatnya, iman dipisahkan dari etika. Seseorang dapat aktif dalam pelayanan, rajin beribadah, bahkan fasih berbicara tentang iman, namun tidak merasa perlu untuk hidup dalam integritas, kasih, dan tanggung jawab moral (Matius 7:21; Titus 1:16). Injil tidak lagi membentuk cara hidup, melainkan hanya menjadi identitas religius (Roma 12:1-2).[8]

 

 

II. PANDANGAN ALKITAB TENTANG ANUGERAH DAN PEKERJAAN (PERBUATAN) DALAM KESELAMATAN

Pemahaman yang memisahkan anugerah dari tanggung jawab hidup jelas tidak sejalan dengan kesaksian Alkitab (Roma 6:1-2; Titus 2:11-12). Justru ketika Alkitab dibaca secara menyeluruh, terlihat bahwa para rasul tidak pernah mempertentangkan keselamatan oleh anugerah dengan panggilan untuk hidup taat (Efesus 2:8-10; Yakobus 2:17). Salah satu teks yang paling penting dan sering disalahpahami dalam hal ini adalah Filipi 2:12-13.

 

Rasul Paulus, yang sering dijadikan rujukan utama untuk menegaskan keselamatan oleh anugerah, menulis kepada jemaat di Filipi:

 

“Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”

 Filipi 2:12

 

Pernyataan ini seringkali menimbulkan kegelisahan teologis, karena sekilas tampak bertentangan dengan ajaran Paulus sendiri tentang pembenaran oleh iman (Roma 3:24; Efesus 2:8-9). Sebagian orang bahkan merasa ayat ini “berbahaya”, karena dianggap dapat mengarah kepada keselamatan oleh pekerjaan (perbuatan).  Namun kegelisahan tersebut muncul bukan karena Paulus tidak konsisten, melainkan karena ayat ini sering dipisahkan dari konteksnya. Paulus tidak sedang berbicara kepada orang-orang yang belum diselamatkan, melainkan kepada jemaat yang sudah percaya, sudah mengalami anugerah, dan sudah hidup di dalam Kristus (Filipi 1:1; Kolose 2:6). Karena itu, frasa “kerjakan keselamatanmu” tidak berarti usahakan supaya kamu selamat, melainkan hidupkan dan jalani keselamatan yang telah kamu terima (Roma 6:4; Gal. 2:20).[9]

 

Makna ini menjadi semakin jelas ketika Paulus melanjutkan kalimatnya: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:13). Ayat ini bukan koreksi terhadap ayat sebelumnya, melainkan penjelasan yang tidak terpisahkan. Paulus dengan sengaja menempatkan tanggung jawab manusia dan karya Allah dalam satu rangkaian (1Korintus 15:10).

1.      Paulus tidak berkata, “Allah bekerja, jadi kamu tidak perlu berbuat apa-apa,”

2.      dan juga tidak berkata, “Kamu harus bekerja supaya Allah mau bekerja.”

 

Yang Paulus katakan adalah: “Allah bekerja lebih dahulu, dan karena itulah manusia dapat dan harus merespons” (Yohanes 15:5).[10] Ketaatan bukan pengganti anugerah, melainkan hasil dan ekspresi dari anugerah yang sedang bekerja di dalam diri orang percaya (Titus 3:8).

 

Ungkapan “takut dan gentar” juga penting untuk dipahami. Ini bukan ketakutan akan kehilangan keselamatan setiap saat, melainkan sikap hormat, kesadaran akan kekudusan Allah, dan kesungguhan dalam menjalani hidup baru (Mazmur 111:10; Ibrani 12:28).  

 

Keselamatan tidak diperlakukan secara sembarangan, tetapi dijalani dengan rasa tanggung jawab rohani yang mendalam (1Petrus 1:15-17).  Orang percaya tidak duduk diam tanpa tanggung jawab, tetapi juga tidak berjalan dengan kekuatan sendiri. Ia hidup dengan bersandar pada Allah yang terus bekerja di dalam dirinya, menolongnya untuk mau dan mampu hidup sesuai kehendak-Nya (2 Korintus 3:5; Ibrani 13:20-21).

 

Dalam konteks surat Paulus kepada jemaat Efesus, jika pembacaan berhenti sampai di Efesus 2:8-9 saja, pemahaman kita tentang keselamatan menjadi tidak lengkap. Paulus melanjutkan dengan penjelasan penting dalam ayat 10, bahwa orang percaya diciptakan kembali di dalam Kristus untuk hidup dalam pekerjaan (perbuatan) baik yang sudah Allah siapkan (Efesus 2:10).  Artinya, keselamatan oleh anugerah tidak berhenti pada penerimaan iman, tetapi berlanjut dalam kehidupan baru yang dijalani setiap hari (Roma 6:4; Kolose 2:6).[11]

 

Alkitab tidak mengenal anugerah yang pasif. Anugerah yang sejati selalu aktif, bekerja di dalam hidup, dan menghasilkan pertumbuhan, ketaatan, serta buah yang memuliakan Allah (Titus 2:11–14; Galatia 5:22–23).[12]

 

A.   Dimensi Work dalam tulisan Yohanes

Pemahaman yang sama juga terlihat jelas dalam tulisan-tulisan Rasul Yohanes. Yohanes seringkali disalahpahami seolah-olah ia menekankan pekerjaan (perbuatan) dan ketaatan tanpa anugerah. Padahal sebenarnya, Paulus dan Yohanes berbicara dari cara pandang yang sama: iman sebagai relasi hidup dengan Allah (Yohanes 15:4-5; 1  Yohanes 2:3-6).

 

Bagi Yohanes, iman tidak pernah berhenti pada pengakuan iman atau pemahaman doktrin yang benar.  Iman selalu terlihat dari cara seseorang hidup (1 Yohanes 2:3-6).  Karena itu Yohanes bisa berbicara dengan sangat tegas: jika seseorang mengaku mengenal Allah tetapi tidak mau taat kepada perintah-Nya, maka ada yang tidak beres dengan imannya (1 Yohanes 2:4).  Pernyataan keras ini bukan untuk menolak anugerah, melainkan untuk membuka kedok iman yang hanya ada di mulut, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup dalam relasi dengan Allah (1 Yohanes 1:6).

 

Hubungan yang hidup dengan Allah seperti ini pasti membawa perubahan, terutama dalam ketaatan dan kasih kepada sesama (1 Yohanes 2:10; 3:24).[13]  Yohanes tidak sedang mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh pekerjaan (perbuatan), melainkan menegaskan bahwa iman yang sejati selalu menghasilkan buah dalam kehidupan nyata (1 Yohanes. 3:18).

 

Dalam Injil Yohanes, kata “percaya” tidak pernah dimengerti hanya sebagai setuju dengan ajaran atau mengakui kebenaran secara intelektual. Percaya adalah cara hidup (Yohanes 1:12; Yohanes 20:31). Ketika Yesus mengajak orang untuk percaya, Ia tidak sekadar mengundang mereka menerima pengetahuan rohani, tetapi masuk ke dalam hubungan hidup yang mengubah seluruh arah kehidupan seseorang (Yohanes 15:4–5).  Karena itu, dalam Injil Yohanes, percaya selalu tampak dalam tindakan nyata: tinggal di dalam Kristus, mengikuti-Nya, mendengar suara-Nya, dan menaati firman-Nya (Yohanes 10:27; Yohanes 14:15). Percaya yang tidak menghasilkan ketaatan bukanlah percaya menurut pemahaman Yohanes (Yohanes 3:36).[14]

 

Pemahaman ini kemudian dilanjutkan dan diperdalam dalam surat-surat Yohanes. Jika Injil Yohanes menekankan percaya sebagai hubungan hidup dengan Kristus, maka surat-surat Yohanes menunjukkan bagaimana hubungan itu diuji dan dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari (1 Yohanes 2:3-6).  Yohanes tidak memberi ruang bagi iman yang hanya ada di konsep, tetapi terpisah dari kenyataan hidup (1 Yohanes 1:6-7).[15]

 

Bagi Yohanes, kasih bukan sekadar perasaan atau pengakuan lisan (1 Yohanes 4:20). Kasih yang sejati selalu tampak dalam tindakan nyata (1 Yohanes 3:16-17). Tanpa pekerjaan (perbuatan), kasih hanya menjadi kata-kata rohani yang kosong (1 Yohanes 3:18).[16]  Ungkapan ini memang terdengar keras, tetapi lahir dari keyakinan bahwa hubungan yang sejati dengan Allah pasti membawa perubahan nyata dalam cara seseorang hidup dan mengasihi (1 Yohanes 3:24).[17]

 

Tema ini mencapai puncaknya dalam Kitab Wahyu. Jika Injil Yohanes berbicara tentang percaya, dan surat-surat Yohanes menekankan kasih serta ketaatan, maka Wahyu menunjukkan tujuan akhir dari perjalanan iman tersebut (Wahyu 1:9).  Wahyu tidak hanya berbicara tentang masa depan atau penghakiman, tetapi tentang bagaimana kehidupan iman orang percaya dinilai di hadapan Allah (Wahyu 2:2-3).[18]

 

Wahyu 19:7-8 menghadirkan salah satu gambaran paling indah tentang hubungan antara anugerah dan pekerjaan (perbuatan). Pengantin Anak Domba digambarkan mengenakan kain lenan halus yang berkilau dan putih bersih. Yohanes lalu menjelaskan bahwa kain lenan itu melambangkan pekerjaan-pekerjaan (perbuatan-perbuatan) benar dari orang-orang kudus (Wahyu 19:8).[19]

 

Gambaran ini merangkum seluruh teologi Yohanes dalam satu simbol yang kuat. Pakaian pengantin itu diberikan oleh Allah, ini menunjukkan anugerah yang murni (Wahyu 19:8a). Namun pakaian itu dikenakan oleh pengantin ini menggambarkan respons manusia (Wahyu 19:7).  Dan pakaian itu disebut sebagai pekerjaan (perbuatan) benar, ini adalah buah dari relasi yang hidup dan setia dengan Allah (Wahyu 19:8b).[20]

 

Allah yang memulai, Allah yang memberi kemampuan, dan manusia dipanggil untuk merespons dengan kesetiaan (Wahyu 2:26). Tidak ada ruang untuk kesombongan manusia (Wahyu 4:11), tetapi juga tidak ada tempat bagi iman yang pasif (Wahyu 14:12).[21]

 

Sebagai penegasan teologis yang utuh, sintesis Yohanes ini menyatakan bahwa keselamatan adalah:

1.      anugerah yang dijalani (Yohanes 1:16),

2.      iman yang bekerja (1 Yohanes 3:24), dan

3.      kesetiaan yang dipelihara sampai akhir (Wahyu 2:10).

Percaya berarti hidup dalam ketaatan (Yohanes 14:21). Mengasihi berarti bertindak nyata (1 Yohanes 3:18). Dan pada akhirnya, hidup yang setia akan berdiri di hadapan Anak Domba bukan dengan tangan kosong, tetapi dengan pakaian yang telah disediakan oleh anugerah dan dikenakan melalui kesetiaan (Wahyu 19:7–8).[22]

 

Inilah iman Kristen yang alkitabiah, Pentakostal, dan hidup yakni iman yang tidak berhenti di awal, tetapi berjalan sampai akhir dalam kuasa Roh Kudus (Yohanes 16:13; Galatia 5:25).[23]

 

B.   Work and Grace dalam Ordo Salutis

Dalam teologi Kristen, istilah ordo salutis merujuk pada urutan logis karya keselamatan Allah sebagaimana dialami dan dijalani oleh manusia.[24] Louis Berkhof mendefinisikan ordo salutis sebagai “urutan penerapan karya penebusan Kristus dalam kehidupan individu oleh Roh Kudus.”[25]  Dengan kata lain, ordo salutis tidak dimaksudkan untuk menyusun kronologi waktu yang kaku, melainkan untuk menolong gereja memahami bagaimana karya keselamatan Allah yang objektif di dalam Kristus diterapkan secara subjektif dan progresif dalam hidup orang percaya.[26]

Melalui kerangka ini, keselamatan dipahami sebagai satu kesatuan karya anugerah Allah yang mencakup berbagai dimensi, mulai dari panggilan Allah, iman dan pertobatan, pembenaran, pengudusan, hingga pemuliaan, yang semuanya bersumber dari inisiatif ilahi dan dikerjakan oleh Roh Kudus.[27]

 

Para teolog seperti John Murray dan Wayne Grudem menegaskan bahwa ordo salutis menolong kita melihat bahwa keselamatan bukan hanya peristiwa satu kali, melainkan proses yang utuh dan berkelanjutan.[28] Murray menekankan bahwa setiap aspek dalam ordo salutis saling berkaitan secara organik, sehingga tidak boleh dipisahkan atau dipertentangkan satu dengan yang lain.[29] Dalam kerangka inilah relasi antara anugerah dan pekerjaan (perbuatan) harus dipahami. Ordo salutis mencakup pembenaran (justification) sebagai tindakan anugerah Allah yang sepenuhnya monergistik, pengudusan (sanctification) sebagai proses transformasi hidup yang dijalani dalam kerja sama dengan Roh Kudus, serta pemuliaan (glorification) sebagai penggenapan akhir keselamatan dalam kesetiaan sampai akhir.[30] Dengan memahami ordo salutis secara utuh, gereja dapat menjaga keseimbangan alkitabiah antara anugerah Allah yang menyelamatkan dan tanggung jawab iman yang diwujudkan dalam kehidupan yang taat dan berbuah.[31]

 

Pembahasan tentang “work” (pekerjaan/perbuatan) dalam ordo salutis sering kali menimbulkan kecurigaan. Sebagian umat takut bahwa penekanan pada pekerjaan (perbuatan) akan menggeser keselamatan dari anugerah kepada usaha manusia. Justru Kitab Suci secara konsisten menempatkan “work” dalam kerangka keselamatan yang utuh, bukan sebagai pengganti anugerah, melainkan sebagai hasil, ekspresi, dan bukti dari karya Allah yang menyelamatkan.[32] Ketegangan ini bukan hal baru, tetapi telah menjadi bagian dari diskursus teologis sepanjang sejarah gereja, terutama dalam relasi antara iman, anugerah, dan ketaatan.

 

Untuk memahami posisi “work” secara benar, penting melihatnya dalam keseluruhan proses keselamatan: justification (pembenaran), sanctification (pengudusan), dan glorification (pemuliaan).[33]

 

1.   Work and Grace dalam Justification

Dalam hal pembenaran (justification), Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa pekerjaan (perbuatan) tidak pernah menjadi dasar keselamatan (Efesus 2:8-9; Roma 3:20). Manusia dibenarkan bukan karena apa yang ia kerjakan, melainkan karena apa yang Yesus Kristus telah kerjakan melalui kematian-Nya di kayu salib (Roma 3:24-25; 1 Petrus 2:24). Pembenaran adalah tindakan Allah yang sepenuhnya berasal dari kasih karunia dan diterima melalui iman (Roma 5:1).[34] Dengan demikian, dasar pembenaran bersifat kristosentris dan monergistik, berasal dari karya Allah, bukan kontribusi manusia.

 

Kasih karunia (grace) merupakan dasar dan sumber dari pembenaran. Pembenaran bukan hanya keputusan hukum Allah, tetapi juga ekspresi kasih karunia-Nya yang bebas dan berdaulat. Manusia dibenarkan “dengan cuma-cuma oleh kasih karunia-Nya” (Roma 3:24), bukan karena kelayakan atau usaha manusia. Jika pembenaran didasarkan sedikit saja pada pekerjaan (perbuatan), maka kasih karunia tidak lagi menjadi kasih karunia (Roma 11:6).[35]

 

Kasih karunia yang membenarkan juga bukan kasih karunia yang pasif. Kasih karunia yang sama yang mengampuni adalah kasih karunia yang mendidik dan membangkitkan respons iman di dalam diri manusia (Titus 2:11-12). Oleh sebab itu, kasih karunia tidak bertentangan dengan pekerjaan (perbuatan) baik, melainkan melahirkan pekerjaan (perbuatan) baik sebagai buahnya (1 Korintus 15:10). Pemahaman ini menjaga gereja dari dua ekstrem: legalisme yang menjadikan pekerjaan sebagai dasar pembenaran, dan anomianisme yang menyalahgunakan kasih karunia sebagai alasan untuk hidup tanpa pertobatan (Roma 6:1-2).[36]

 

Share this Post: