Puji Tuhan, kita sudah memasuki semester kedua tahun ini, tepatnya bulan Juli. Memasuki paruh kedua tahun ini, Tuhan kembali mengingatkan kita akan satu hal yang sangat penting, yaitu menjaga api rohani tetap menyala. Jangan sampai api itu padam. Api doa, api penyembahan, api kasih kepada Tuhan, dan api pelayanan harus terus menyala di dalam hidup kita.
Firman Tuhan berkata, "Janganlah padamkan Roh." (1 Tesalonika 5:19). Api rohani tidak akan tetap menyala dengan sendirinya. Api itu harus terus dijaga melalui kehidupan doa, pembacaan Firman Tuhan, penyembahan, dan persekutuan yang intim dengan Tuhan.
Tuhan juga mengingatkan kita melalui firman-Nya dalam Yeremia 33:3:
"Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui."
Karena itu, marilah kita semakin sungguh-sungguh berseru kepada Tuhan. Bangun kembali kehidupan doa pribadi, setia mengikuti menara doa, doa puasa, doa keliling, maupun doa bersama. Tuhan sedang mencari umat yang berseru kepada-Nya dengan segenap hati, bukan sekadar menjalankan rutinitas.
Demikian juga dengan pujian dan penyembahan. Jangan hanya menyanyikan lagu, tetapi menyembahlah dengan hati yang sungguh-sungguh. Perbanyak mengucap syukur, sebab hati yang penuh ucapan syukur akan lebih mudah melihat karya Tuhan dalam setiap musim kehidupan.
Dalam Ester 2:12, kita membaca bahwa sebelum Ester menghadap Raja Ahasyweros, ia terlebih dahulu dipersiapkan selama dua belas bulan. "Tiap-tiap kali seorang gadis mendapat giliran untuk masuk menghadap raja Ahasyweros, dan sebelumnya ia dirawat menurut peraturan bagi para perempuan selama dua belas bulan, sebab seluruh waktu itu digunakan untuk pemakaian wangi-wangian: enam bulan untuk memakai minyak mur dan enam bulan lagi untuk memakai minyak kasai serta lain-lain wangi-wangian perempuan."
Sebelum menerima perkenanan raja, Ester harus melalui proses terlebih dahulu. Demikian pula dalam kehidupan kita. Tuhan sering kali membawa kita melewati proses sebelum mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar.
Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh rindu hidup dalam perkenanan Tuhan?
Tidak ada yang lebih indah daripada menyenangkan hati Tuhan. Perkenanan Tuhan jauh lebih berharga daripada pujian manusia.
Enam bulan pertama Ester dipersiapkan dengan minyak mur, yang dapat menggambarkan proses pertobatan, pemurnian, dan pemulihan. Tuhan sedang membentuk karakter kita agar semakin serupa dengan Kristus.
Memasuki semester kedua ini, seperti halnya Ester pada semester yang kedua dipersiapkan dengan “minyak kasai”, itu sebabnya kita belajar mengenai minyak kasai dan wewangian lainnya. Kita tidak memahaminya sebagai sesuatu yang mistis, tetapi sebagai gambaran kehidupan yang dipersiapkan untuk menyenangkan hati Sang Raja. Keharuman hidup orang percaya lahir dari perjumpaan pribadi dengan Tuhan.
Rasul Paulus berkata: "Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus." (2 Korintus 2:15). Setiap orang memiliki perjalanan rohaninya masing-masing. Pengalaman bersama Tuhan tidak bisa disalin atau ditiru. Karena itu, jangan iri melihat kehidupan rohani orang lain. Sebaliknya, bangunlah mezbah doa pribadi. Luangkan waktu untuk berjumpa dengan Tuhan setiap hari.
Di "istana Raja", yaitu di hadirat Tuhan, kita diubahkan. Semakin kita dekat dengan Tuhan, semakin karakter Kristus nyata dalam hidup kita. Kehidupan yang harum di hadapan Tuhan lahir dari hubungan yang intim dengan-Nya. Karena itu, milikilah kerendahan hati, hiduplah dalam kekudusan, dan teruslah mengejar hadirat Tuhan. Apa pun persoalan dan pergumulan yang sedang kita hadapi, jangan menjauh dari Tuhan. Justru di masa-masa seperti itulah kita perlu semakin dekat kepada-Nya.
Dalam masa-masa seperti ini kita harus berhati-hati terhadap Tipu Daya Iblis. Sejak awal, iblis selalu berusaha menjauhkan manusia dari Tuhan melalui tipu daya.
Dalam kitab Kejadian, ular dipakai Iblis untuk menyesatkan Hawa dengan mengatakan bahwa manusia dapat menjadi seperti Allah (Kejadian 3:1-5). Sampai hari ini cara kerja iblis tidak banyak berubah. Ia selalu berusaha menggeser fokus kita dari Tuhan kepada hal-hal yang lain.
Karena itu, fokus kita harus tetap kepada Tuhan Yesus Kristus. Jangan sampai hati kita lebih tertarik kepada pemikiran dunia, filsafat manusia, atau berbagai ajaran yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Yesus adalah sumber kehidupan. Dialah Pencipta langit dan bumi. Firman Tuhan berkata: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan." (Yohanes 1:3)
Karena itu, mari kita Back to Bible, kembali kepada Firman Tuhan. Rasul Petrus mengingatkan: "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah..." (1 Petrus 4:11). Jangan sampai perkataan kita dipenuhi hal-hal yang sia-sia atau humor yang tidak membangun. Biarlah Firman Tuhan mewarnai setiap perkataan dan keputusan kita.
Itulah sebabnya setiap jemaat perlu rajin membaca dan mempelajari Alkitab. Firman Tuhan tidak boleh hanya menjadi pengetahuan, tetapi harus tinggal di dalam hati kita dan menjadi dasar dalam menjalani kehidupan. Dalam menghadapi apa pun, kita harus memiliki dasar yang kuat, yaitu Firman Tuhan. Tanpa dasar yang kokoh, kita akan mudah goyah, mudah bimbang, dan mudah dikuasai ketakutan. Karena itu, mari kita memastikan tiga hal berikut ini.
Pertama, pastikan bahwa kita hidup di dalam Kristus dan memiliki kepastian keselamatan. Kedua, pastikan nama kita tertulis dalam kitab kehidupan. Karena itu, kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar, seperti yang diajarkan dalam Filipi 2:12. Keselamatan adalah anugerah Allah, tetapi orang yang telah diselamatkan dipanggil untuk hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Ketiga, hiduplah dalam pertobatan setiap hari. Biarlah Roh Kudus terus membentuk hati kita.
Bila kita masih bergumul dengan ketakutan, termasuk ketakutan menghadapi kematian, datanglah kepada Tuhan. Bangun iman melalui Firman-Nya. Surga adalah nyata, dan itulah pengharapan setiap orang yang percaya kepada Kristus. Selama Tuhan masih memberikan kita kehidupan, marilah kita hidup berbuah. Berdoalah agar Tuhan memakai kita memenangkan jiwa-jiwa di keluarga, di tempat kerja, di sekolah, di kampus, dan di mana pun Tuhan menempatkan kita.
Mazmur 90 mengingatkan kita tentang pentingnya menggunakan hidup dengan bijaksana. Firman Tuhan berkata: "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10)
Persoalannya bukan berapa panjang umur kita, tetapi apakah hidup kita berdampak bagi Kerajaan Allah. Selanjutnya Musa berdoa: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12)
Orang yang bijaksana menghargai setiap hari yang Tuhan berikan. Jangan membuang waktu untuk hal-hal yang tidak membangun. Gunakan setiap kesempatan untuk mengasihi Tuhan, melayani sesama, dan mengerjakan panggilan-Nya.
Mazmur 90:14 juga mengajarkan: "Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami." Karena itu, biasakan memulai hari bersama Tuhan. Bangun pagi, berdoalah, bacalah Firman Tuhan, pujilah dan sembahlah Dia. Izinkan hadirat-Nya memenuhi hati kita sepanjang hari.
Dalam pelayanan, kita tidak dipanggil menjadi "superstar", tetapi menjadi tim yang menyatu. Tuhan membangun gereja melalui orang-orang yang saling melengkapi. Sebagai pemimpin, kita juga membutuhkan orang-orang yang dapat dipercaya, seperti yang diajarkan Paulus kepada Timotius: "Apa yang telah engkau dengar daripadaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercaya, yang juga cakap mengajar orang lain." (2 Timotius 2:2). Karena itu, marilah menjadi pribadi yang berintegritas, jujur, dan menjadi pelaku Firman Tuhan. Paulus juga mengingatkan: "Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu." (1 Timotius 4:16). Kehidupan dan ajaran harus berjalan bersama. Dan syukur kepada Tuhan, Roh Kudus akan menolong kita untuk tetap hidup benar di hadapan-Nya.
Perbedaan Saul dan Daud bukanlah karena Daud tidak pernah gagal. Perbedaannya terletak pada respons hati mereka terhadap Firman Tuhan. Saul mendengar perintah Tuhan, tetapi tidak melakukannya dengan sepenuh hati. Sebaliknya, Daud, ketika ditegur, merendahkan diri dan bertobat.
Demikian pula Abraham. Setiap kali Tuhan berbicara, Abraham belajar berkata, "Ya, Tuhan," lalu melangkah dalam ketaatan. Kekristenan bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi soal hati. Firman Tuhan berkata: "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7). Karena itu, jagalah hati kita. Tidak semua yang kita dengar harus kita masukkan ke dalam hati. Ujilah segala sesuatu dengan Firman Tuhan. Jangan biarkan hati kita dipenuhi "sampah" yang menjauhkan kita dari Tuhan.
Sebaliknya, penuhilah hati dengan Firman Tuhan, doa, dan penyembahan. Dan apa pun yang sedang kita hadapi hari ini, jangan memikulnya seorang diri. Firman Tuhan mengingatkan: "Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7).
Kiranya memasuki semester kedua tahun ini, api kasih kita kepada Tuhan semakin menyala, kehidupan doa kita semakin kuat, penyembahan kita semakin dalam, dan hidup kita semakin berkenan di hadapan Tuhan. Mari terus hidup dekat dengan Yesus, menjadi pelaku Firman, dan setia sampai garis akhir. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

