Shalom,
Kita sedang berada dalam era penyelesaian Amanat Agung dengan target 2033. Artinya kita mengerahkan segala daya dan upaya untuk bergerak memenangkan dan memuridkan jiwa-jiwa. Gereja yang tidak sibuk memenangkan jiwa, pada akhirnya akan sibuk dengan dirinya sendiri. Ketika gereja kehilangan fokus untuk bergerak keluar, yang terjadi justru gesekan ke dalam, yang menyebabkan timbulnya kesalahpahaman, kekecewaan, bahkan konflik. Hal ini dapat terjadi karena arah hidup rohaninya tidak lagi selaras dengan hati Tuhan.
Sejak awal, gereja tidak pernah dipanggil untuk hanya berkumpul dan nyaman di dalam. Gereja dipanggil untuk bergerak keluar, menjangkau jiwa, dan menjadi terang di tengah dunia. Itulah sebabnya kita tidak boleh hanya aktif di dalam tembok gereja, tetapi juga hadir di tengah Masyarakat dengan membangun relasi, menjangkau berbagai kalangan, dan menjadi berkat secara nyata. Bahkan melalui momen seperti halal bi halal dengan tokoh-tokoh lintas agama dan tokoh-tokoh masyarakat, kita bisa membangun jembatan kasih dan membuka pintu untuk kesaksian Injil.
Di tengah semua itu, satu hal yang sangat penting adalah pemuridan. Gereja bukan hanya tempat berkumpulnya banyak orang, tetapi tempat lahirnya murid-murid Kristus. Yesus sendiri berkata dalam Matius 28:19, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Artinya, tugas kita bukan hanya mengumpulkan jemaat, tetapi membentuk kehidupan mereka. Pemuridan tidak harus selalu formal. Justru sering kali terjadi secara sederhana, misalnya melalui berjalan bersama, makan bersama, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Itulah esensi komunitas seperti COOL, di mana kehidupan rohani dibangun dalam relasi yang nyata.
Tujuan pemuridan jelas: mempersiapkan jemaat menjadi dewasa rohani dan siap menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Karena pada akhirnya, yang Tuhan cari bukan hanya banyaknya orang percaya, tetapi kedewasaan rohani mereka. Semua ini sejalan dengan visi Gereja Bethel Indonesia, yaitu “Menjadi seperti Yesus”, dimana jemaat bukan sekadar tahu tentang Dia, tetapi hidup seperti Dia. Yesus adalah pribadi yang hidup dalam doa. Lukas 5:16 mencatat, “Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat sunyi dan berdoa.” Yesus juga berpuasa, hidup dalam ketaatan, dan penuh dengan sukacita.
Sukacita ini penting. Banyak orang kehilangan sukacita karena terlalu fokus pada masalah, tekanan hidup, dan ambisi pribadi. Padahal firman Tuhan berkata dalam Filipi 4:4, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” Bahkan rasul Paulus tetap bisa bersukacita di dalam penjara. Artinya, sukacita bukan ditentukan oleh situasi, tetapi oleh hubungan kita dengan Tuhan. Jangan sampai keadaan membuat kita stres dan kehilangan damai sejahtera.
Di sinilah peran doa menjadi sangat penting. Doa bukan hanya alat untuk mengubah keadaan, tetapi terutama untuk mengubah hati kita. Yakobus 4:3 mengingatkan, “Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” Doa yang benar bukan memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita, tetapi membawa kita selaras dengan kehendak-Nya.
Sering kali tidak terjadinya terobosan dalam hidup dan pelayanan kita bukan karena Tuhan tidak mau bekerja, tetapi karena umat-Nya tidak berdoa. Sejarah gereja menunjukkan bahwa setiap kebangunan rohani selalu dimulai dari doa. Gerakan Menara Doa di GBI Jl. Jend. Gatot Subroto yang dimulai sejak tahun 1998 adalah contoh bagaimana Tuhan menggerakkan umat-Nya untuk kembali kepada mezbah doa. Ini bukan sekadar program, tetapi gaya hidup yang harus terus dijaga.
Gereja mula-mula memberikan teladan yang sangat jelas tentang kehidupan rohani yang sehat. Kisah Para Rasul 2:42 berkata, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Kata “bertekun” menunjukkan konsistensi, bukan sesaat. Mereka setia dalam firman, dalam doa, dan dalam persekutuan.
Ketekunan ini juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tidak hidup bergantung pada kekuatan sendiri, tetapi percaya penuh pada pemeliharaan Tuhan. Seperti yang Yesus ajarkan dalam Matius 6:33, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Dunia mengajarkan untuk mengandalkan apa yang terlihat, tetapi firman Tuhan mengajarkan untuk bergantung kepada-Nya. Bukan berarti kita tidak bekerja, tetapi kita tidak menjadikan hal-hal dunia sebagai sumber utama keamanan hidup kita.
Selain itu, jemaat mula-mula hidup dalam kebersamaan dan kesatuan hati. Kisah Para Rasul 2:46 mencatat bahwa mereka berkumpul dengan sehati. Hati yang benar sangat penting, karena Amsal 4:23 berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kalau hati kita tidak dijaga, pelayanan kita bisa rusak. Hubungan antar jemaat juga harus dijaga, karena seperti Amsal 27:17 katakan, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
Komunitas kecil seperti COOL menjadi tempat yang sangat strategis untuk mengalami hadirat Tuhan secara nyata. Ketika orang merasakan hadirat Tuhan dalam komunitas, mereka akan bertumbuh dan rindu mengajak orang lain. Dari sinilah pertumbuhan terjadi secara alami. Bahkan ke depan, komunitas-komunitas ini bisa berkembang menjadi pelayanan yang lebih besar, bahkan membuka jemaat (gereja lokal) baru. Ini sejalan dengan prinsip bahwa Injil berkembang paling efektif melalui komunitas yang hidup, dan bahwa metode penginjilan paling efektif di bawah kolong langit adalah menanam gereja-gereja baru (C. Peter Wagner).
Terkait dengan komunitas, di tengah kemudahan zaman sekarang, kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam zona nyaman. Tidak sedikit orang yang masih merasa nyaman beribadah secara online saja, dari rumah atau tempat tinggal tanpa harus pergi ke Gedung gereja atau tempat ibadah. Ibadah online memang membantu, tetapi tidak boleh menggantikan kerinduan untuk berkumpul secara langsung. Kisah Para Rasul 2:46 menunjukkan bahwa mereka berkumpul setiap hari di Bait Allah. Ada kerinduan, ada lapar akan Tuhan. Mereka juga berkumpul dari rumah ke rumah, yang mencerminkan kehidupan komunitas yang hidup.
Hal yang sangat menguatkan adalah janji Tuhan dalam Kisah Para Rasul 2:47, “...dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Perhatikan, Tuhan yang menambahkan. Tugas kita adalah setia, taat, dan terus berdoa. Hasilnya adalah bagian Tuhan.
Ketika gereja berjalan dengan benar, akan terjadi transformasi. Banyak jiwa bertobat, kehidupan berubah, dan dampaknya bisa dirasakan bahkan dalam masyarakat. Ini bukan sekadar pertumbuhan jumlah, tetapi perubahan yang nyata.
Kunci dari semua ini kembali kepada doa yang tekun. Kisah Para Rasul 12:5 mencatat, “...jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.” Ketika Petrus dipenjarakan, jemaat tidak panik, tetapi berdoa. Yesus sendiri mengajarkan dalam Lukas 18:1 bahwa kita harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Memang, musuh terbesar doa adalah kejenuhan.
Nabi Elia memberikan contoh yang luar biasa. Ia berdoa sampai tujuh kali sebelum melihat awan kecil sebagai tanda jawaban Tuhan (1 Raja-raja 18:43-44). Ini mengajarkan bahwa doa yang tekun tidak berhenti sampai melihat jawaban.
Bahkan dalam Kisah Para Rasul 12:12, kita melihat bahwa jemaat berkumpul dan berdoa bersama. Inilah ciri murid Kristus: mereka adalah orang-orang yang berdoa.
Akhirnya, kalau kita mau menyelesaikan Amanat Agung, kuncinya sederhana tetapi kadang dirasa tidak mudah: teruslah berdoa. Doa bukan sekadar aktivitas rohani, tetapi nafas kehidupan orang percaya.
Jika kita rindu pekerjaan, usaha, dan kehidupan kita diberkati, maka mulailah dengan doa yang benar, doa dengan iman, doa dengan ketaatan, dan doa yang selaras dengan kehendak Tuhan. Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu... maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Tuhan bukan hanya memberi hasil, tetapi juga menuntun prosesnya.
Karena itu, mari kita melangkah dengan sederhana namun setia. Bangun kehidupan doa setiap hari, terlibat aktif dalam COOL, mulai menjangkau jiwa, dan jaga hati kita tetap benar di hadapan Tuhan. Jika kita melakukan bagian kita, maka kita percaya Tuhan akan melakukan bagian-Nya, bahkan jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Amin.
Tuhan Yesus memberkati.

