Shalom,
Tuhan memberikan kepada kita keluarga besar GBI Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta bahwa tema tahun 2026 adalah Tahun Amanat Agung, di mana kita berfokus untuk kembali kepada inti panggilan Kristen: menjadi murid Tuhan Yesus dan hidup seperti Yesus hidup. Sejalan dengan itu, tahun ini juga kita memasuki apa yang disebut sebagai Tahun Penyelarasan sebagaimana disampaikan dalam Apostolic Council of Prophetic Elders, bahwa tahun 5786 adalah musim di mana Tuhan sedang menyelaraskan umat-Nya.
Panggilan ini bukan sekadar ajakan rohani, melainkan sebuah arah hidup. Kita diingatkan bahwa hidup sebagai murid Kristus berarti tidak mencari pamor, tidak mengejar panggung, dan tidak hidup untuk uang atau pengakuan manusia. Sebaliknya, kita dipanggil untuk mengikuti jalan Salib, jalan ketaatan, kerendahan hati, dan penyerahan penuh kepada kehendak Tuhan.
Gembala Pembina menegaskan bahwa tujuan akhir hidup kita adalah menjadi seperti Yesus, dan satu-satunya jalan menuju keserupaan itu adalah melalui pemuridan yang sejati. Karena itu, hidup kita perlu diselaraskan dengan Tuhan Yesus, artinya hidup kita diselaraskan dengan karakter-Nya, nilai-Nya, cara berpikir-Nya, dan cara hidup-Nya. Penyelarasan ini tidak selalu nyaman, karena sering kali berarti pemurnian. Hal-hal dalam diri kita yang tidak sejalan dengan Kristus seperti kedagingan, ego, ambisi pribadi, kesombongan, dan cinta dunia tentunya harus dibuang dan dimatikan.
Firman Tuhan dalam Maleakhi 3:3 menggambarkan proses ini dengan indah:
“Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.”
Seperti seorang pandai perak yang duduk dengan sabar saat memurnikan logam, Tuhan pun tidak meninggalkan kita selama proses pemurnian. Logam perak dipanaskan dengan api yang sangat panas, dan si pandai perak harus terus mengawasi agar perak itu tidak rusak. Ia tahu perak itu sudah murni ketika ia dapat melihat pantulan wajahnya sendiri di dalam logam tersebut. Demikian juga dengan hidup kita. Tuhan sedang memurnikan kita sampai wajah Kristus terlihat dalam karakter, sikap, dan cara hidup kita. Proses ini mungkin terasa panas, sulit, dan melelahkan, tetapi Tuhan selalu berjaga dan memperhatikan kita, supaya kita tidak hancur. Karena itu, kita tidak perlu lari dari proses. Justru di dalam proses itulah Tuhan membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Anak-Nya.
Ketika kita berada dalam masa pemurnian, kita perlu menyadari bahwa kita tidak pernah sendirian. Tuhan Yesus selalu menyertai kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Oleh sebab itu, jangan tinggalkan Tuhan di tengah proses. Akan ada akhirnya, dan pada akhirnya kita akan semakin menyerupai Kristus, dan wajah Kristus akan nyata dalam hidup kita.
Pesan ini juga dikuatkan melalui kesaksian tentang kesetiaan Tuhan sepanjang hidup. Seperti lirik lagu yang berkata, “All my life You’ve been faithful…”, kita diingatkan bahwa Tuhan setia dalam setiap musim kehidupan. Mengikuti Yesus berarti seperti Yesus berjalan di Via Dolorosa, jalan Salib, jalan pengorbanan. Ada saat-saat di mana kita merasa sudah lelah, merasa sudah cukup, dan ingin berhenti. Namun Tuhan sering berkata kepada kita, “Belum selesai.”
Ketika kita memilih untuk taat dan tetap berjalan bersama Tuhan, Dia memberi kekuatan baru, sukacita baru, dan iman yang diperbarui. Bahkan dalam situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian, seperti pengalaman saat hujan lebat yang berpotensi menimbulkan kecelakaan, namun Tuhan tetap menunjukkan perlindungan dan kedaulatan-Nya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia mengingatkan kita bahwa kita hidup di zaman yang penuh goncangan dan ketidakpastian.
Karena itulah firman Tuhan dalam Kolose 3:1-4 menjadi sangat relevan bagi kita: “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Kita dipanggil untuk mencari perkara yang di atas, karena dunia ini tidak akan berhenti bergoncang. Yesus sendiri berkata dalam Lukas 21:25-28, “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, ketakutan, dan tekanan mental, firman Tuhan justru mengajak kita untuk mengangkat wajah kita dan hidup dalam pengharapan. Meskipun ada target penyelesaian Amanat Agung pada tahun 2033, kita juga diingatkan bahwa Tuhan Yesus bisa datang kapan saja! Karena itu, kita perlu terus menjaga fokus kita pada perkara-perkara yang kekal.
Firman Tuhan juga menekankan bahwa pikiran adalah medan pertempuran. Dalam 2 Korintus 10:5 dikatakan, “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,” Siasat dan kubu yang dimaksud di sini berbicara tentang pola pikir yang melawan kebenaran Tuhan.
Petrus pernah ditegur Yesus ketika pikirannya tidak sejalan dengan kehendak Allah, sebagaimana tertulis dalam Matius 16:21–23. Ini mengingatkan kita bahwa mengikut Yesus bukan hanya soal tindakan, tetapi juga soal cara berpikir. Karena itu, kita diajak untuk mengatur pikiran kita (set our mind on heavenly things). Salah satu cara praktisnya adalah dengan membaca Alkitab setiap hari, khususnya di awal hari, sehingga pikiran kita diarahkan kepada firman Tuhan, bukan dikuasai oleh kekhawatiran, ketakutan, atau tekanan dunia. Kolose 3:3 mengingatkan kita bahwa, “…kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Dan 1 Yohanes 5:18-19 menegaskan bahwa kita berasal dari Allah, sementara dunia berada di bawah kuasa si jahat. Artinya, hidup kita bukan lagi milik dunia, hidup kita adalah milik Kristus.
Seperti Ayub yang berkata bahwa dulu ia hanya mendengar tentang Tuhan dari cerita orang lain, tetapi sekarang ia mengalami Tuhan secara pribadi (Ayub 42:5), demikian pula dengan kita. Proses yang kita alami hari ini membawa kita dari sekadar “mendengar tentang Tuhan” menjadi mengalami Tuhan secara nyata dalam hidup.
Apa pun proses yang Tuhan izinkan, kita percaya bahwa ujungnya adalah kemenangan. Tuhan tidak pernah membentuk kita untuk menghancurkan kita, melainkan untuk memberkati kita dan membawa kita kepada kemuliaan. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21).
Kita hidup dalam perjalanan keselamatan yang mencakup pembenaran (justification), pengudusan (sanctification), dan pemuliaan (glorification). Saat ini, kita berada dalam tahap pengudusan, yakni masa proses di mana Tuhan terus membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Yesus. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk bertahan, tetap setia, dan tidak menyerah, karena Tuhan Yesus segera datang kembali.
Sebagaimana sebuah kalimat terkenal yang mengatakan, “Receiving Jesus – Costs Nothing; Following Jesus – Costs Something; Becoming like Jesus – Costs Everything” Menerima Tuhan Yesus adalah anugerah yang gratis, tetapi mengikut Yesus membutuhkan komitmen dan pengorbanan, dan menjadi seperti Yesus menuntut seluruh hidup kita. Namun semua itu sepadan, karena tujuan akhirnya adalah hidup yang memuliakan Tuhan dan berbuah bagi Kerajaan Allah.
Inilah sebabnya sekarang bukan waktunya kita mengasihani diri sendiri. Ini adalah waktunya untuk fokus menyelesaikan Amanat Agung, bertumbuh sebagai murid Kristus, dan membiarkan Tuhan menyelaraskan hidup kita sepenuhnya dengan kehendak-Nya. Tuhan sedang bekerja. Tuhan sedang memurnikan. Tuhan sedang mempersiapkan kita. Mari kita tidak lari dari proses, melainkan hidup sepenuhnya bagi Yesus, sampai wajah Kristus nyata dalam hidup kita.
Selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili bagi seluruh jemaat yang merayakannya. Tuhan Yesus memberkati.

