Shalom,
SELAMAT TAHUN BARU 2026, TAHUN AMANAT AGUNG.
Tanpa terasa kita sudah memasuki tahun yang baru, tentunya penting sekali bagi kita untuk tetap memiliki semangat yang menyala (on fire) sebab di depan ini situasi dan kondisi mungkin tidak bertambah baik. Kita melihat ketidakpastian ekonomi, gejolak yang terjadi di dunia, dan berbagai tantangan yang membuat banyak orang bisa saja kehilangan pengharapan. Namun kita punya Tuhan yang ajaib dan perkasa. Dia tidak pernah berubah, dan kuasa-Nya tidak berkurang oleh keadaan apa pun. Justru di tengah kondisi yang sulit, kuasa Tuhan dinyatakan dengan nyata. Haleluya!
Setiap doa kita, tangisan, air mata, erangan (groaning prayer), dan doa keliling yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Mungkin manusia tidak melihatnya atau memberikan apresiasi atas apa yang kita lakukan, tetapi Tuhan mencatatnya satu per satu. Tidak ada doa yang ‘jatuh ke tanah’ dengan sia-sia. Semua doa kita ‘naik’ sebagai kurban yang harum di hadapan Tuhan, dan pada waktunya akan menghasilkan jawaban.
Pada tanggal 5 Desember 2025 yang lalu, dalam acara DOA BAGI BANGSA di SICC Hall A dan B, saat Gembala Jemaat Induk Senayan (Gembala Pembina) mengajak setiap jemaat yang hadir untuk memuji dan menyembah, Tuhan memberikan penglihatan kepada Bunda banyak bunga-bunga yang mulai tumbuh. Bunga tidak tumbuh di musim dingin, bunga muncul ketika musim semi. Penglihatan Ini tentunya bukan sekadar gambaran yang indah, tetapi pesan rohani yang dalam. Artinya, ke depan ini Indonesia akan mengalami musim semi. Musim semi adalah masa di mana kehidupan baru muncul, yang mati mulai hidup kembali, dan yang kering mulai bersemi. Ini adalah musim harapan dan kesempatan yang Tuhan berikan.
Musim semi perlu respons ketaatan. Ciri murid adalah taat. Ketaatan bukan sekadar mengetahui kehendak Tuhan, tetapi mau melakukannya. Kalau kita tahu ke depan ini adalah musim semi, kita tidak boleh pasif. Musim semi tidak akan terjadi dengan sendirinya. Tuhan bekerja melalui umat-Nya yang taat.
Karena itu, respons kita harus nyata: Berdoa, bukan doa biasa, tetapi doa yang sungguh-sungguh. Mengerang (groaning prayer), yaitu doa yang lahir dari beban rohani. Doa keliling, sebagai tindakan iman dan deklarasi rohani. Berpuasa, sebagai bentuk merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ini bukan sekedar aktivitas rohani, tetapi respons iman terhadap apa yang Tuhan sedang kerjakan. Melalui puasa juga iman diuji dan dibentuk.
Kita berada di tahun Pey Pav. Dalam tahun ini kita akan melihat banyak pemulihan hubungan dan penuaian jiwa. Bagi yang sudah memiliki divine connection dengan Tuhan, lewat iman kepada Yesus, tidak akan mengalami kehidupan rohani yang stagnan, melainkan terus bertumbuh secara rohani dimana hubungan itu akan menjadi makin erat dan makin sungguh-sungguh. Api doa akan menyala kembali, kerinduan akan Firman Tuhan akan bertambah. Bagi yang belum ‘terhubung’ akan mulai terkoneksi dengan Tuhan. Hati yang sebelumnya keras akan dilembutkan, dan jiwa-jiwa yang selama ini jauh dan menjauh dari Tuhan akan ditarik kembali kepada Tuhan. Karena itu, penuaian jiwa-jiwa akan terjadi.
Bukan hanya hubungan dengan Tuhan yang dipulihkan, tetapi juga hubungan antar sesama. Persaudaraan akan makin kuat, kekeluargaan akan makin nyata, baik itu di dalam internal cabang masing-masing, antar cabang, dan antar sub-rayon. Gereja akan menjadi keluarga rohani yang saling menopang.
Salah satu bentuk respon kita adalah “Doa Keliling dan Puasa Estafet Nusantara call 3” yang akan berlangsung mulai 6 Januari sampai dengan 30 Juni 2026. Ini bukan sekadar agenda, tetapi panggilan doa nasional. Kita sudah melihat dampaknya pada Nusantara Call 2 dimana salah satu dampaknya adalah Indonesia mengalami perlindungan Tuhan. Tidak ada serangan terorisme sepanjang tahun, dan itu adalah buah doa. Karena itu, doa-doa keliling harus diperkuat. Setiap cabang, ranting, dan sub-rayon mengambil bagian. Ketika gereja berdoa, Tuhan bertindak atas bangsa.
Sepanjang tahun 2025 kita mengalami banyak pergumulan dan perjuangan. Ada air mata, ada kelelahan, ada pertanyaan. Namun Tuhan tetap baik dan setia. Kesetiaan Tuhan tidak diukur dari keadaan, tetapi dari janji-Nya. Karena itu, kita harus lebih banyak dan lebih sering naik ke menara doa. Bukan malah makin kendor dan tidak pernah naik ke menara doa. Ingatlah bahwa penderitaan dan padang gurun itu tidak untuk selamanya. Akan ada ujungnya, dan Tuhan sendiri yang membawa kita keluar.
Setiap pengerja dipanggil bukan hanya melayani program, tetapi memuridkan jiwa-jiwa. Menjadi pemurid artinya menjadi Gembala COOL yang hadir, peduli, menuntun, dan mendampingi jemaat COOL bertumbuh menjadi dewasa rohani. COOL bukan sekadar pertemuan, tetapi wadah pertumbuhan murid. Kalau ada jemaat mau ikut COOL, itu berarti mereka rindu bertumbuh sebagai murid, bukan hanya menerima berkat, tetapi mau taat dan diubahkan.
Tentunya kita tidak ingin gereja hanya sekadar ramai dengan pengunjung, tetapi kita ingin agar semua jemaat menjadi murid Yesus sesuai dengan Amanat Agung yang Ia berikan. Surga bukan diisi oleh pengunjung gereja, tetapi oleh murid Yesus. Tuhan Yesus berkata, segala kuasa baik di bumi maupun di surga diberikan kepada Yesus, dan dari kuasa itulah gereja diutus. Tugas utama gereja tetap sama sepanjang zaman: memberitakan Injil dan memuridkan.
Kita rindu agar semua jemaat menjadi murid. Gereja bertumbuh bukan karena gedung, tetapi karena pemimpin yang dibangkitkan. Pemuridan sejati terjadi melalui pengajaran Firman Tuhan yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang terjadi dengan gereja mula-mula. Menjadi murid berarti mengikut Yesus, ini berarti menyangkal diri, bukan memanjakan diri. Kita adalah prajurit Kristus. Yang kita cari bukan pujian manusia, tetapi perkenanan dari Komandan kita. Terkait dengan hal ini kita juga diingatkan bahwa musuh kita bukan manusia (Efesus 6:12). Karena itu, jangan saling melukai. Kita harus menjaga hati, karena dari sanalah kehidupan memancar (Amsal 4:23). Sakit hati adalah umpan iblis untuk melumpuhkan orang percaya. Kalau hati rusak, keluarga dan pelayanan ikut rusak. Karena itu, menjaga hati adalah bagian dari peperangan rohani.
Akhirnya, fokus kita jelas: Tugas utama kita adalah menyelesaikan Amanat Agung dan tujuan hidup kita adalah: Menjadi serupa dengan Kristus. Kita masuk Tahun Amanat Agung. Bangun koneksi, perkuat hubungan, hidup dalam damai tanpa kompromi. Karena Tuhan rindu sebanyak mungkin orang diselamatkan. Amin.

