Shalom,
Hari-hari ini, ada kerinduan yang Tuhan taruh di hati kita: supaya di kampus, di sekolah, di kantor, di setiap tempat di mana kita ditempatkan, ada mezbah doa yang ditegakkan. Kerinduan ini bukan sekadar program rohani, tetapi respons terhadap pekerjaan Roh Kudus yang sedang membangkitkan umat-Nya untuk kembali kepada DNA kita: Restorasi Pondok Daud.
Pola penuaian yang Tuhan berikan melalui Gembala Pembina adalah doa, pujian, dan penyembahan yang dilakukan bersama-sama dalam kesatuan, siang dan malam. Penuaian jiwa tidak pernah terlepas dari doa yang tekun dan hadirat Roh Kudus yang nyata. Gereja mula-mula mengalami pertambahan jiwa justru ketika mereka sehati, bertekun dalam doa, dan mengalami kepenuhan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1-2). Karena itu, yang perlu “dikencangkan” bukan sekadar aktivitas, tetapi mezbah doa.
Mezbah doa berbeda dengan persekutuan doa biasa. Mezbah doa bukan soal struktur, bukan soal siapa yang berkhotbah, bukan soal administrasi. Mezbah doa adalah tempat di mana Yesus ditinggikan melalui pujian dan penyembahan, baik itu di sekolah, kampus, kantor, dan di mana saja umat berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan berpuasa, dan memberi ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja. Di mezbah doa, fokusnya bukan manusia, melainkan Tuhan. Melalui mezbah doa, kita akan melihat hati dilembutkan, dosa disadarkan, panggilan diteguhkan, dan kuasa Tuhan dinyatakan. Ketika mezbah doa ditegakkan, kita percaya bukan hanya suasana rohani yang berubah, tetapi hidup orang-orang akan dilawat Tuhan. Lawatan Tuhan bukan sekadar emosi, melainkan perjumpaan yang nyata (autentik) dengan Roh Kudus yang mengubahkan karakter, menyalakan kembali kasih mula-mula, dan mendorong keberanian untuk bersaksi. Karena itu, kita tidak boleh pasif. Ini waktunya kita “jemput bola” dan menangkap api mezbah doa itu.
Di tengah kerinduan rohani itu, kita juga tidak menutup mata terhadap realitas kehidupan. Banyak yang sedang bergumul dalam hal keuangan. Situasi dunia dan perekonomian memang tidak sedang baik-baik saja. Namun sebagai orang percaya, kita tidak hidup berdasarkan situasi. Kita hidup berdasarkan iman kepada Tuhan yang berdaulat.
Alkitab mengajarkan bahwa orang benar hidup oleh iman. Kita diberkati bukan karena keadaan selalu mendukung, tetapi karena kita mengandalkan Tuhan dan berharap kepada-Nya. Pengharapan kita bukan optimisme kosong, melainkan iman kepada Allah yang setia memelihara anak-anak-Nya. Mukjizat terobosan memang nyata, mukjizat bukan sekadar soal uang atau kelimpahan materi. Mukjizat terbesar adalah pemeliharaan Tuhan, hikmat dalam mengambil keputusan, kekuatan untuk bertahan, dan pintu-pintu yang Tuhan buka pada waktu-Nya.
Dalam kehidupan komunitas, COOL harus tetap semangat, on fire, dan siap melaksanakan panggilan. COOL bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi sharing life. Di sana kita belajar saling membuka diri, saling mendoakan, dan saling menguatkan. Sebagai insan Pentakosta, persekutuan yang hidup selalu ditandai dengan doa yang hangat, firman yang dibagikan dengan kuasa, dan relasi yang tulus.
Tuhan kadang mengizinkan kita sampai pada titik nadir. Dalam kedaulatan-Nya, Dia mengizinkan proses yang merendahkan hati kita. Bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk memurnikan. Seperti emas dimurnikan dalam api, demikian pula iman kita diuji supaya menjadi lebih murni. Ketika Tuhan mengangkat kembali, kita sadar bahwa semuanya karena anugerah, bukan karena kehebatan kita.
Kehidupan yang dimurnikan juga menyangkut kekudusan pribadi. Alkitab berbicara tentang keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup. Ayub memberikan teladan integritas ketika ia berkata dalam Ayub 31:1, “Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?” Ini menunjukkan disiplin rohani dan kesadaran untuk menjaga kekudusan.
Kepenuhan Roh Kudus tidak pernah terpisah dari kehidupan yang kudus. Roh Kudus adalah Roh yang kudus; karena itu, hidup yang dipenuhi Roh akan terlihat dalam kemurnian hati dan tindakan. Firman Tuhan dalam Daniel 11:32 menegaskan, “Dan orang-orang yang berlaku fasik terhadap Perjanjian akan dibujuknya sampai murtad dengan kata-kata licin; tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Pengenalan akan Allah menghasilkan dua hal: kekuatan dan tindakan. Bukan hanya kuat secara batin, tetapi juga nyata dalam tindakan. Iman yang sejati selalu menghasilkan ketaatan.
Karena itu, kita perlu memperhatikan cara kita mendengar firman. Respons kita terhadap firman sangat penting. Kita tidak hanya menjadi pendengar yang terharu, tetapi pelaku yang taat. Ketika goncangan terjadi, orang yang sungguh mengenal Tuhan tidak mudah goyah. Ia tetap kuat, bukan karena dirinya, tetapi karena Roh Kudus yang menguatkan.
Namun firman juga realistis. Daniel 11:35 berkata, “Sebagian dari orang-orang bijaksana itu akan jatuh, supaya dengan demikian diadakan pengujian, penyaringan dan pemurnian di antara mereka, sampai pada akhir zaman; sebab akhir zaman itu belum mencapai waktu yang telah ditetapkan.” Ada proses pemurnian. Bahkan orang bijaksana pun bisa mengalami kejatuhan atau tekanan. Tetapi tujuan Tuhan adalah pemurnian, bukan kebinasaan. Karena itu, kita berdoa supaya setiap kita lulus dalam ujian dan dapat menyelesaikan pertandingan iman dengan baik, finishing well.
Sebagai orang percaya, kita juga dipanggil untuk hidup dalam pemisahan rohani. 2 Korintus 6:17-18 berkata, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa." Pemisahan ini bukan berarti mengasingkan diri dari dunia, tetapi hidup dengan standar Kerajaan Allah di tengah dunia. Kita hadir sebagai terang dan garam, namun tidak ikut arus dosa.
Akhirnya, setiap kita harus sadar bahwa hidup ini akan dipertanggungjawabkan. Gembala COOL adalah pengerja. Pengerja bukan hanya pelaksana tugas, tetapi penatalayan kehidupan. Kolose 1:23 mengingatkan, “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil yang telah kamu dengar dan yang telah diberitakan di seluruh alam di bawah kolong langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” Ketekunan adalah ciri iman yang dewasa. Keselamatan adalah anugerah, tetapi kita dipanggil untuk terus bertekun dan tidak menggeserkan diri dari Injil.
Kiranya kita menjadi jemaat yang menegakkan mezbah doa, hidup dalam kepenuhan Roh Kudus, menjaga kekudusan, kuat dalam iman, dan nyata dalam tindakan. Bukan hanya mengalami lawatan Tuhan sesaat, tetapi berjalan setia sampai akhir, sehingga nama Tuhan dimuliakan melalui hidup kita. Amin. Tuhan Yesus memberkati!

