PESAN TUHAN MELALUI GEMBALA RAYON 3 DAN BUNDA KRISTINA FARAKNIMELLA MEI 2026

Shalom,

 Pesan yang Tuhan sampaikan kepada kita bukan sekadar penguatan, tetapi memberikan arah yang jelas bagi gereja-Nya. Melalui gembala pembina, Tuhan sedang menyatakan isi hati-Nya: bahwa di hari-hari ini, umat Tuhan harus kembali kepada dasar yang paling penting, yaitu doa. Firman Tuhan dalam Yeremia 33:3 berkata, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” Ini adalah pesan dan tuntunan untuk kita, bukan hanya sekedar untuk didengar, tetapi untuk dilakukan.

 

Sejak momen Hari Kebangkitan Doa Nasional pada 20 Mei 2025 yang lalu, ada dorongan yang kuat di hati untuk melihat kebangkitan doa di segala lini kehidupan. Jika kita rindu melihat penuaian, baik dalam karakter, keluarga, pelayanan, maupun jiwa-jiwa, maka tidak ada jalan lain selain memperkuat kehidupan doa, pujian, dan penyembahan. Kebangunan rohani tidak dimulai dari aktivitas yang ramai, tetapi dari hati yang hancur di hadapan Tuhan, dari lutut yang bertelut, dan dari air mata yang berdoa bagi jiwa-jiwa.

 

Kebangkitan doa tidak boleh hanya terjadi di gereja, tetapi harus menjalar ke setiap aspek kehidupan. Di keluarga, harus ada mezbah doa yang hidup. Di marketplace, harus ada orang-orang percaya yang tetap menjaga kehidupan rohani di tengah kesibukan. Di sekolah dan kampus, harus ada kelompok kecil yang setia berdoa, berpuasa, dan bersyafaat bagi lingkungannya. Dari kelompok kecil yang setia seperti itulah, Tuhan bisa mendatangkan lawatan yang besar. Tuhan tidak mencari jumlah yang banyak, tetapi hati yang setia.

 

Janji Tuhan dalam Yeremia 33:3 sangat jelas. Dia akan menyatakan hal-hal yang besar, yang tidak terpahami oleh akal manusia, bahkan yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Bagi orang yang berseru kepada Tuhan, Dia akan menuntun langkah demi langkah. Step by step and each step will be a miracle. Bukan berarti tidak ada tantangan, tetapi di setiap proses, tangan Tuhan nyata memimpin.

 

Tuhan kembali menegaskan arah melalui lima metode untuk menyelesaikan Amanat Agung.

 

Yang pertama dan terutama adalah harus banyak berdoa, memuji, dan menyembah Tuhan dalam unity siang dan malam. Kita tidak bisa setengah-setengah. Ini salah satu bukti bentuk kebergantungan kita sepenuhnya kepada Roh Kudus. Tanpa Tuhan, semua yang kita lakukan hanya menjadi usaha manusia. Tetapi ketika kita mengandalkan Roh Kudus, maka pelayanan kita menjadi bagian dari pekerjaan Allah.

 

Peristiwa yang dicatat dalam 2 Tawarikh 20 menggambarkan hal ini dengan sangat jelas. Raja Yosafat menghadapi musuh yang besar dan ia menyadari bahwa ia tidak memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Ia memilih untuk berpuasa dan mencari wajah Tuhan. Dalam doanya, ia mengakui ketidakmampuannya dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Jawaban Tuhan sangat tegas: “Bukan kamu yang akan berperang, melainkan Allah.” Ketika mereka maju dengan memuji dan menyembah Tuhan, justru di saat itulah Tuhan bertindak dan memberikan kemenangan. Ini menjadi prinsip rohani yang penting: doa dan penyembahan membuka jalan bagi pekerjaan Tuhan.

 

Karena itu, setiap bagian pelayanan serta dalam kehidupan pribadi harus kembali memperkuat doa dan puasa. Kita tidak hanya bekerja, tetapi belajar bergantung kepada Tuhan. Di tengah segala tantangan, kita tidak boleh fokus pada masalah, tetapi pada kebesaran Tuhan. Masalah akan selalu ada, tetapi Tuhan jauh lebih besar dari setiap persoalan yang kita hadapi.

 

Metode yang kedua adalah memberitakan Injil kepada orang lain. Ini adalah panggilan yang tidak bisa ditunda. Yesus berkata dalam Matius 28:19, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Injil bukan untuk disimpan, tetapi untuk disampaikan. Ladang tuaian ada di sekitar kita, baik itu di rumah sakit, di lingkungan kerja, di keluarga, dan di komunitas kita. Kita dipanggil untuk aktif, bukan menunggu. Kita pergi, menjangkau, dan bersaksi tentang Kristus. Namun kita juga sadar bahwa kita bukanlah yang mengubahkan hati orang. Tugas kita adalah menyampaikan, sedangkan Roh Kuduslah yang bekerja dan menyentuh hidup mereka.

 

Metode yang ketiga adalah memperlengkapi para murid agar bertumbuh dan melayani. Efesus 4:12 menjelaskan bahwa setiap orang percaya harus diperlengkapi untuk pekerjaan pelayanan. Artinya, kekristenan tidak berhenti pada percaya, tetapi harus berlanjut pada pertumbuhan dan keterlibatan dalam pelayanan. Melalui komunitas seperti COOL dan pemuridan yang berkelanjutan, setiap orang dibentuk menjadi murid yang dewasa. Mereka bukan hanya menerima, tetapi juga memberi. Mereka bukan hanya diajar, tetapi juga melayani. Inilah proses yang sehat dalam tubuh Kristus.

 

Walaupun ada target penyelesaian Amanat Agung tahun 2033, kita tetap menyadari bahwa waktu kedatangan Tuhan sepenuhnya ada dalam kedaulatan-Nya. Namun hal itu tidak membuat kita pasif. Justru sebaliknya, kita harus semakin giat dan setia mengerjakan bagian kita selama masih ada kesempatan.

 

Metode yang keempat adalah meringankan penderitaan orang lain dengan menolong mereka. Kasih Kristus tidak hanya dinyatakan melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Galatia 6:2 berkata, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.” Kita dipanggil untuk menjadi jawaban bagi orang-orang yang sedang mengalami kesulitan. Kita menolong tanpa memandang latar belakang, suku, atau agama, karena kasih Tuhan berlaku untuk semua orang. Ketika gereja hadir dengan kasih yang nyata, dunia akan melihat Kristus melalui kita.

 

Metode yang kelima adalah mendirikan gereja-gereja baru. Amanat Agung tidak akan selesai tanpa adanya perluasan dan pelipatgandaan. Salah satu cara praktisnya adalah dengan membuka kelompok-kelompok kecil (COOL) yang baru. Namun COOL tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul tanpa arah. Harus ada jiwa yang dimenangkan, ada murid yang dibentuk, dan ada pemimpin yang dilahirkan. Ketika sebuah kelompok sudah bertumbuh, maka harus berani melipatgandakan diri. Jiwa-jiwa adalah milik Tuhan, bukan milik manusia. Karena itu, kita tidak bersaing dengan yang lain, tetapi bersama-sama membangun Kerajaan Allah.

 

Tahun 2026 adalah Tahun Amanat Agung. Ini adalah waktu bagi kita untuk bergerak bersama dalam kesatuan. Mungkin dalam perjalanan ada perbedaan-perbedaan, tetapi kita dipanggil untuk tetap berjalan bersama. Seperti firman Tuhan dalam Pengkhotbah 4:12, “Tali tiga lembar tidak mudah diputuskan.” Kesatuan adalah kekuatan kita dalam menggenapi panggilan Tuhan.

 

Berbagai momentum rohani juga menjadi bagian dari gerakan ini, mulai dari Doa Puasa dan Doa Keliling Nusantara Call 3, Hari Kebangkitan Doa Nasional ke-2 yang akan dilaksanakan 20 Mei 2026, Doa Bagi Bangsa, hingga peringatan Sumpah Pemuda yang akan kita laksanakan pada 28 Oktober 2026 yang akan datang. Semua ini bukan sekadar agenda, tetapi bagian dari gerakan Tuhan untuk membangkitkan gereja-Nya.

 

Pada akhirnya, satu hal yang harus terus dijaga adalah api rohani kita. Imamat 6:12 berkata bahwa api di atas mezbah tidak boleh padam. Ini berbicara tentang kehidupan rohani, termasuk api doa yang harus terus menyala, doa yang hidup, kasih yang tetap berkobar, dan semangat untuk melayani yang tidak redup.

 

Segala sesuatu dimulai dari doa, digerakkan oleh Roh Kudus, dan digenapi melalui ketaatan kita. Kita tidak dipanggil untuk hidup biasa-biasa saja. Kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam rencana besar Tuhan, yakni menyelesaikan Amanat Agung.

 

Mari kita bangkit dalam doa, dan bergerak dalam ketaatan. Tuhan Yesus memberkati.

Share this Post: