Shalom,
Tanggal 11 September malam waktu Israel menandai dimulainya tahun baru dalam penanggalan Ibrani, yaitu tahun Pey Zayin (5787). Kita bersyukur dan kembali mengingat akan panggilan Tuhan. Ada panggilan Tuhan dalam hidup kita. Panggilan tersebut bukan karena kebaikan kita, melainkan semata-mata karena anugerah-Nya.
Sepanjang periode 5780–5789 dikatakan sebagai Dekade Pey. Karena itu, ada dua hal yang perlu kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Pertama, kita perlu memperhatikan perkataan Tuhan. Kedua, kita juga perlu memperhatikan apa yang keluar dari mulut kita. Perkataan yang keluar dari mulut kita harus menjadi perkataan yang berintegritas, karena kehidupan kita sebagai umat Tuhan juga tercermin melalui apa yang kita ucapkan.
Secara piktografis, Zayin, yang berkaitan dengan angka 7, sering digambarkan atau diasosiasikan dengan pedang atau senjata. Karena itu, memasuki tahun Pey Zayin menjadi momentum yang luar biasa untuk kembali merenungkan makna pedang dalam kehidupan rohani kita. Pertanyaannya adalah: Pedang siapa?
1. Pedang Roh, yaitu Firman Tuhan
Efesus 6:17b berkata: “...dan terimalah pedang Roh, yaitu firman Allah.”
Pedang Roh adalah Firman Tuhan. Karena itu, kita perlu membangun kehidupan yang sungguh-sungguh di dalam Firman Tuhan. Saat teduh harus dilakukan dengan sungguh-sungguh; jangan bolong-bolong. Kita perlu menyediakan waktu untuk membaca, merenungkan, memahami, dan melakukan Firman Tuhan. Tuhan akan banyak berbicara kepada kita melalui Firman-Nya.
Jika kita ingin semakin mengenal suara Tuhan, kita harus semakin sungguh-sungguh membaca, merenungkan, dan melakukan Firman-Nya. Firman Tuhan bukan sekadar sesuatu yang kita ketahui, melainkan menjadi dasar bagi kehidupan kita, cara kita mengambil keputusan, dan cara kita menjalani panggilan Tuhan.
Karena itu, memasuki Pey Zayin menjadi pengingat bagi kita untuk kembali mencintai Firman Tuhan dan memberikan tempat yang sungguh-sungguh bagi Tuhan untuk berbicara kepada kita melalui Firman-Nya.
2. Pedang untuk Peperangan Rohani
Mazmur 149:6-9 berkata: “Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka, untuk melakukan pembalasan terhadap bangsa-bangsa, penyiksaan-penyiksaan terhadap suku-suku bangsa, untuk membelenggu raja-raja mereka dengan rantai, dan orang-orang mereka yang mulia dengan tali-tali besi, untuk melaksanakan terhadap mereka hukuman seperti yang tertulis. Itulah semarak bagi semua orang yang dikasihi-Nya. Haleluya!”
Lalu, bagaimana kita secara roh menghadapi dan membelenggu kuasa kegelapan? Mazmur 149 menghubungkan pujian dan pengagungan kepada Allah dengan gambaran pedang bermata dua. Pujian dan pengagungan Allah ada dalam kerongkongan kita.
Perhatikan kata “kerongkongan.” Ini bukan hanya berbicara tentang sesuatu yang ada dalam pikiran atau hati, melainkan sesuatu yang keluar dan dinyatakan. Apa yang ada dalam hati kepada Tuhan perlu dinyatakan melalui kehidupan pujian, penyembahan, dan seruan kepada-Nya.
Hal ini mengingatkan kita kepada Yeremia 33:3: “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.” Karena itu, kita harus berseru kepada Tuhan.
Saat ini kita mungkin banyak menghadapi hal-hal yang tidak kita pahami. Kita tidak selalu mengerti apa yang sedang terjadi dan tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi ke depan. Kita hanya menjalaninya langkah demi langkah. Karena itu, kita berseru kepada Tuhan. Step by step and each step will be a miracle.
Tuhan mau agar kita berseru kepada-Nya. Artinya, kita tidak dapat menjalani kehidupan rohani dengan biasa-biasa saja. Kita perlu sungguh-sungguh membangun kehidupan doa, pujian, penyembahan, dan seruan kepada Tuhan.
HARUS ADA DALAM KERONGKONGAN, BUKAN CUMA DI MULUT.
Artinya, apa yang kita ucapkan harus lahir dari hati yang sungguh-sungguh mencari Tuhan. Jangan hanya ada kata-kata di bibir, tetapi kehidupan kita juga harus mencerminkan apa yang kita katakan.
Dalam era peperangan rohani yang semakin besar, kita membutuhkan kehidupan doa, pujian, penyembahan, dan terus berseru kepada Tuhan. Kita tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita mengandalkan Tuhan.
3. Ketaatan yang Radikal dan Kerendahan Hati yang Radikal
Selanjutnya, kita diingatkan mengenai Radical Obedience dan Radical Humility, yaitu ketaatan yang radikal dan kerendahan hati yang radikal. Kita melihat prinsip ini melalui kisah Gideon dalam Hakim-Hakim 7.
Hakim-Hakim 7:20 berkata: “Demikianlah ketiga pasukan itu bersama-sama meniup sangkakala, dan memecahkan buyung dengan memegang obor di tangan kirinya dan sangkakala di tangan kanannya untuk ditiup, serta berseru: "Pedang demi TUHAN dan demi Gideon!"
Pasukan tiga ratus orang tersebut melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Mereka meniup sangkakala, memecahkan buyung, memperlihatkan obor, dan berseru sebagaimana yang diperintahkan.
Buyung harus dipecahkan agar nyala obor terlihat nyata. Dalam refleksi rohani, buyung dapat menjadi gambaran tentang sesuatu yang harus diremukkan atau dipecahkan sehingga apa yang Tuhan taruh di dalamnya dapat terlihat. Sementara itu, sangkakala dapat menjadi gambaran bagi kita tentang doa, pujian, dan penyembahan yang dinaikkan kepada Tuhan.
Pasukan tiga ratus orang itu berteriak: “Pedang demi Tuhan dan demi Gideon!”
Yang menarik, kemenangan mereka bukan karena kekuatan tiga ratus orang itu. Mereka hanya melakukan bagian yang Tuhan perintahkan. Tuhanlah yang bertindak. Di sini kita melihat pentingnya kerendahan hati. Orang yang rendah hati dapat taat kepada Tuhan dan juga kepada tuntunan-Nya yang diberikan lewat pemimpin. Kerendahan hati membuat seseorang tidak merasa dirinya paling tahu, tetapi mau mendengar, belajar, dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki.
Kemudian kita melihat dampaknya dalam Hakim-Hakim 7:21-22: “Sementara itu tinggallah mereka berdiri, masing-masing di tempatnya, sekeliling perkemahan itu, tetapi seluruh tentara musuh menjadi kacau balau, berteriak-teriak dan melarikan diri. Sedang ketiga ratus orang itu meniup sangkakala, maka di perkemahan itu TUHAN membuat pedang yang seorang diarahkan kepada yang lain, lalu larilah tentara itu sampai ke Bet-Sita ke arah Zerera sampai ke pinggir Abel-Mehola dekat Tabat.”
Tuhan bergerak.
Tuhan mengacaukan musuh sehingga mereka saling berhadapan. Pada akhirnya, kemenangan itu mereka terima karena Tuhan yang berperang bagi mereka.
Karena itu, memasuki Pey Zayin, kita diingatkan kembali bahwa Firman Tuhan, doa, pujian, penyembahan, ketaatan, dan kerendahan hati harus menjadi bagian dari kehidupan kita.
Panggilan Tuhan yang kita terima bukan hanya untuk kita jalani secara pribadi, tetapi juga untuk menjadi berkat bagi gereja, bagi bangsa, dan bagi generasi. Karena itu, memasuki Pey Zayin ini, kita perlu terus mengingat apa yang Tuhan sudah kerjakan, mensyukuri anugerah-Nya, dan menyadari bagaimana Tuhan terus mempercayakan panggilan-Nya kepada kita sebagai gereja.
Dalam perjalanan itulah kita juga diingatkan untuk terus berdiri dalam doa bagi bangsa Indonesia dan mengambil bagian dalam apa yang Tuhan sedang kerjakan di tengah bangsa ini. Apa yang Tuhan taruh dalam hati kita harus kita bawa dalam doa. Kita perlu banyak berdoa bagi bangsa. Doa Puasa, Doa Keliling dan Mezbah Doa Estafet Nusantara Call 4 akan terus kita laksanakan sampai Desember 2026. Doa Bagi Bangsa juga harus terus dilakukan setiap bulan.
Kita melihat berbagai berita dan keadaan yang terjadi di tengah bangsa kita, seperti kebakaran lahan dan hutan yang menyebabkan banyak korban jiwa, kapal di sekitar Anak Gunung Krakatau yang hilang, serta kapal Virgo yang tenggelam, meskipun tidak semua penumpangnya meninggal. Berbagai keadaan tersebut mengingatkan kita bahwa bangsa kita membutuhkan doa. Kita harus berdoa. Ketika kita tidak berdoa, kita kehilangan kesempatan untuk mengambil bagian dalam apa yang Tuhan sedang kerjakan bagi bangsa kita melalui doa umat-Nya.
Kita juga melihat berbagai dinamika dan demonstrasi besar yang terjadi pada tanggal 20 dan 27 Agustus 2026. Kita bersyukur bahwa keadaan dapat berakhir dengan aman dan terkendali. Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk terus berdoa agar Tuhan memberikan suasana yang kondusif, damai, dan baik bagi bangsa Indonesia.
Kita kembali melihat tiga ratus pasukan Gideon. Mereka berseru, tetapi Tuhanlah yang berperang bagi mereka. Demikian pula, kita dipanggil untuk berseru kepada Tuhan dan menyerahkan bangsa ini ke dalam tangan-Nya.
Karena itu, jangan berhenti. Terus berdoa agar Tuhan memberikan suasana yang kondusif bagi bangsa kita. Kita belajar dari Daniel.
Daniel 9:20-23 berkata: “Sementara aku berbicara dan berdoa dan mengaku dosaku dan dosa bangsaku, bangsa Israel, dan menyampaikan ke hadapan TUHAN, Allahku, permohonanku bagi gunung kudus Allahku, sementara aku berbicara dalam doa, terbanglah dengan cepat ke arahku Gabriel, dia yang telah kulihat dalam penglihatan yang dahulu itu pada waktu persembahan korban petang hari. Lalu ia mengajari aku dan berbicara dengan aku: "Daniel, sekarang aku datang untuk memberi akal budi kepadamu untuk mengerti. Ketika engkau mulai menyampaikan permohonan keluarlah suatu firman, maka aku datang untuk memberitahukannya kepadamu, sebab engkau sangat dikasihi. Jadi camkanlah firman itu dan perhatikanlah penglihatan itu!
Doa Daniel menunjukkan adanya hubungan yang erat antara doa, jawaban Tuhan, dan pekerjaan-Nya di tengah sejarah. Ketika Daniel mulai berdoa, Tuhan mengirim Gabriel untuk memberikan pengertian kepadanya. Karena itu, doa-doa kita menjadi bagian dari cara Tuhan bekerja. Namun, kita tetap memahami bahwa malaikat bergerak atas kehendak dan perintah Tuhan, bukan karena manusia memiliki kuasa untuk mengendalikan malaikat.
Itulah sebabnya Alkitab terus-menerus menekankan kehidupan doa: Berdoa. Berdoa. Berdoa.
Daniel mengaku dosanya dan dosa bangsanya. Ini merupakan wujud kerendahan hati yang radikal. Daniel tidak hanya melihat kesalahan orang lain. Ia datang kepada Tuhan dengan hati yang merendahkan diri dan mengakui dosa. Daniel juga konsisten terus berdoa. Ia tidak menyerah dan tidak berhenti mencari Tuhan sampai jawaban Tuhan datang.
Karena itu: Menara Doa kita jangan sampai kendor.
Doa ini sangat serius bagi masa depan bangsa Indonesia. Kita jaga sampai 2029. Kita jaga sampai 2033. Kita jaga sampai Tuhan Yesus datang. Dasarnya adalah 1 Timotius 2:1-4: “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.”
Ayat 2 mengingatkan kita untuk mendoakan dan memberkati pemerintah kita. Kita mendoakan presiden dan para pemimpin bangsa. Kita tidak dipanggil untuk mengutuki, tetapi untuk mendoakan. Ayat 4 menunjukkan target yang lebih besar: Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Jadi, doa bagi bangsa bukan hanya supaya keadaan bangsa menjadi aman dan kondusif. Lebih dari itu, kita berdoa agar kehendak Tuhan terjadi dan semakin banyak orang mengalami keselamatan serta mengenal kebenaran.
Pey Zayin 5787 mengingatkan kita tentang mulut. Karena itu, kita harus memperhatikan apa yang keluar dari mulut kita. Yesaya 55:11 berkata: “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”
Karena itu, perkatakan Firman Tuhan. Perkatakan janji Tuhan.
Namun, memperkatakan Firman Tuhan bukan berarti kita memaksa Tuhan melakukan apa yang kita inginkan. Kita memperkatakan Firman dengan iman, menyelaraskan perkataan kita dengan kehendak dan janji Tuhan, serta menyerahkan hasilnya kepada Tuhan.
Matius 24:35 berkata: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”
Jika kita memahami bahwa Firman Tuhan itu berkuasa dan perkataan Tuhan tidak akan berlalu, kita tidak akan bolong-bolong dalam saat teduh. Sebaliknya, kita akan semakin menghargai Firman Tuhan, semakin rindu membacanya, semakin rindu mendengar apa yang Tuhan katakan, dan semakin rindu melakukan Firman-Nya.
Zayin, yang berkaitan dengan angka tujuh, dalam refleksi simbolik ini dikaitkan dengan Sabat dan penyelesaian (completion). Hal ini dapat menjadi pengingat bahwa Tuhan adalah Allah yang bekerja dengan maksud dan tujuan-Nya sendiri serta membawa pekerjaan-Nya kepada penggenapan. Ke depan ini akan ada perkara-perkara yang lebih besar. Kita tidak mengetahui seluruh apa yang akan terjadi, tetapi kita tahu bahwa Tuhan mempunyai panggilan bagi hidup kita. Tuhan mau memakai kita untuk menyelesaikan Amanat Agung.
Karena itu, memasuki Pey Zayin, mari kita kembali kepada panggilan Tuhan. Mari kita sungguh-sungguh memperhatikan Firman Tuhan, menjaga apa yang keluar dari mulut kita, membangun kehidupan doa, hidup dalam pujian dan penyembahan, belajar taat dengan radikal, serta hidup dalam kerendahan hati yang radikal. Mari kita terus berdoa bagi bangsa Indonesia dan terus mengambil bagian dalam Amanat Agung sampai Tuhan Yesus datang. Amin.

