Shalom,
Firman Tuhan menyatakan: “Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi. TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:12-14)
Tuhan membuka jalan bagi orang yang takut akan Tuhan. Kalau kita melihat jalan belum terbuka, tentunya bukan karena Tuhan tidak sanggup membuka jalan. Jangan-jangan Tuhan sedang berurusan dengan hati kita. Dalam perjalanan rohani saya, saya belajar satu hal: ketika kita sungguh-sungguh takut akan Tuhan dan hidup dalam kehendak-Nya, Tuhan akan menunjukkan jalan yang harus kita tempuh.
Takut akan Tuhan bukan sekadar menghormati Tuhan. Dalam Alkitab, takut akan Tuhan berarti memandang Tuhan sebagaimana Dia adanya: Allah yang kudus, berkuasa, dan akan menghakimi manusia. Kita sadar bahwa kita hidup di hadapan Allah. Kita mungkin bisa berbohong kepada manusia, tetapi kita tidak bisa berbohong kepada Allah. Kita bisa menyembunyikan dosa dari manusia, tetapi kita tidak bisa menyembunyikannya dari Allah.
Itulah sebabnya Pengkhotbah berkata: “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya.” (Pengkhotbah 12:13)
Perhatikan hubungannya: orang yang takut akan Allah akan hidup taat kepada Allah. Jadi takut akan Tuhan bukan perasaan saja. Takut akan Tuhan menghasilkan kehidupan yang benar.
Orang yang takut akan Tuhan akan berkata: “Tuhan, kehendak-Mu lebih penting daripada kehendakku.” Saya teringat pengalaman Gembala Pembina kita, Bapak Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo. Bulan lalu, ketika Pak Niko terpilih menjadi anggota Council of Eighteen Church of God untuk ketujuh kalinya. Dulu enam kali Pak Niko terpilih sebagai Council of Eighteen kami tertawa, tapi kali ini ketika terpilih untuk yang ketujuh kalinya, kami menangis. Secara akal manusia, rasanya mustahil. Bahkan Pak Niko sendiri merasa sepertinya apa kuat untuk ke Amerika. Tetapi beberapa hari sebelum acara, Tuhan membuka jalan dan memberikan kekuatan kepada Pak Niko. Akhirnya Pak Niko kembali terpilih menjadi anggota Council of Eighteen.
Kita harus mengerti bahwa menjadi anggota Council of Eighteen bukan soal jabatan. Ini tentang bagaimana Tuhan memakai seseorang untuk mengambil bagian dalam mengarahkan dan memengaruhi gereja di Amerika. Dan untuk dapat dipakai Tuhan memengaruhi Amerika, Pak Niko harus “semakin kecil.”
Yohanes Pembaptis berkata: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yohanes 3:30). Kalau satu kali nanti kita dipakai Tuhan, jangan menjadi besar di mata kita sendiri. Tetaplah “kecil”. Tetaplah rendah hati. Jangan karena Tuhan memakai kita, lalu kita merasa hebat. Justru semakin besar Tuhan mempercayakan sesuatu kepada kita, semakin besar tanggung jawab kita untuk tetap takut akan Tuhan.
Tuhan tidak mencari orang yang hanya ingin dipakai. Tuhan mencari orang yang mau dipakai dengan cara Tuhan.
Orang yang takut akan Tuhan akan terus mengoreksi diri. Kalau kita takut akan Tuhan, kita akan terus memeriksa kehidupan kita. Bukan hanya bertanya: “Tuhan, kapan Engkau membuka jalan saya?” Tetapi juga: “Tuhan, apakah hidup saya sudah berkenan kepada-Mu?”
Kadang kita hanya ingin terobosan. Kita ingin Tuhan membuka pintu, memberkati, menyembuhkan, dan memberikan kesempatan. Tetapi Tuhan juga ingin membentuk hati kita. Karena berkat Tuhan bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah supaya hidup kita dipakai untuk kemuliaan Tuhan.
- Kalau kita diberkati, untuk apa?
- Kalau kita disembuhkan, untuk apa?
- Kalau kita diberikan kekuatan, untuk apa?
- Kalau Tuhan memberikan tim yang kuat, untuk apa?
- Kalau Tuhan memberikan kesempatan, untuk apa?
Tuhan memberkati kita dan memberikan kesehatan, kekuatan, kesempatan, keluarga, pekerjaan, sumber daya, karunia, pengaruh, dan membuka pintu. Tetapi jangan berhenti pada berkatnya. Tanyakan: “Tuhan, untuk apa Engkau memberikan semua ini kepada saya?”
Semuanya harus kembali kepada satu tujuan: melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikan Amanat Agung.
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20)
Orang yang bertumbuh dewasa secara rohani tidak akan hidup egois. Anak-anak biasanya berpikir: “Saya dapat apa?” Tetapi orang yang dewasa mulai berpikir: “Apa yang bisa saya lakukan bagi orang lain?” Orang yang dewasa secara rohani akan digerakkan oleh belas kasihan kepada jiwa-jiwa.
- Ia tidak hanya memikirkan kenyamanan dirinya.
- Ia memikirkan orang yang belum mengenal Kristus.
- Ia memikirkan keluarga yang belum diselamatkan.
- Ia memikirkan generasi berikutnya.
- Ia memikirkan bangsanya.
- Ia memikirkan bagaimana Injil dapat diberitakan.
Ingatlah teladan Bunda yang terus berdoa dan mengerang bagi jiwa-jiwa. Ada beban bagi jiwa. Ada tangisan bagi jiwa. Ada kerinduan supaya orang diselamatkan. Itulah hati yang takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan mencintai jiwa-jiwa dan menjangkau jiwa-jiwa.
Jangan buang-buang waktu hanya untuk mengejar uang. Uang itu penting, tetapi uang bukan tujuan hidup kita. Jangan habiskan hidup kita untuk membuktikan bahwa kita lebih hebat daripada orang lain. Jangan hidup hanya untuk mencari pengakuan manusia. Hidup kita terlalu berharga untuk dihabiskan mengejar hal-hal yang tidak kekal.
Paulus berkata: “Sebab bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21). Itu sebabnya kita harus kembali kepada Tuhan. Jangan kejar yang sementara, kejarlah Tuhan. Daud berkata: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23:6)
Daud tidak berkata bahwa hidupnya tidak pernah mengalami masalah. Daud mengalami banyak persoalan, dikejar Saul, mengalami peperangan, tekanan, dan kegagalan. Tetapi Daud tahu kepada siapa ia harus kembali. Daud mengejar Tuhan.
- Ada orang yang bangun pagi langsung mengejar kopi.
- Ada yang bangun pagi langsung mengejar handphone.
- Ada yang bangun pagi langsung memikirkan masalah.
- Ada yang bangun pagi langsung memikirkan orang yang menyakiti hatinya.
- Ada yang bangun pagi langsung memikirkan apa kata orang.
Tetapi mari belajar: ketika kita bangun pagi, Tuhan harus menjadi yang pertama dalam hati kita.
Kalau Tuhan menjadi pusat hidup kita, kita tidak akan mudah dikendalikan oleh keadaan. Jangan terlalu dipusingkan dengan masalah. Bukan berarti masalah tidak penting. Tetapi jangan membiarkan masalah menjadi lebih besar daripada Tuhan di dalam pikiran kita.
Mazmur 46:2 berkata: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” Karena itu bersukacitalah. Tersenyumlah. Bergembiralah di dalam Tuhan. Bukan karena semua keadaan baik, tetapi karena Tuhan tetap baik. “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)
Takut akan Tuhan bukan teori. Ini harus menjadi gaya hidup. Ketika Rasul Yohanes mendapatkan penglihatan tentang Kristus yang dimuliakan, Wahyu 1:17-18 berkata: “Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.”
Yohanes mengalami perjumpaan dengan kemuliaan Kristus. Ada rasa gentar, kekaguman, dan kesadaran akan kebesaran Tuhan. Kalau kita benar-benar menyadari siapa Tuhan, kita tidak akan berani hidup sembarangan. Kita tidak boleh mengatakan bahwa setiap orang yang jatuh dalam dosa pasti karena satu alasan yang sama. Tetapi jelas, ketika rasa takut akan Tuhan hilang, batas-batas kekudusan juga mudah diterobos.
Karena itu jangan bermain-main dengan dosa.
- Jangan bermain-main dengan pornografi.
- Jangan menikmati hal-hal yang najis.
- Jangan senang mem-bully orang.
- Jangan senang melihat orang lain gagal.
- Jangan suka menjelek-jelekkan orang.
- Jangan bergembira ketika orang lain jatuh.
- Jangan menyimpan kebencian.
- Jangan merasa puas ketika orang lain dipermalukan.
- Jangan merampas hak orang lain.
Amsal 8:13 berkata: “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.
Takut akan Tuhan berarti mau ditegur dan mau dibentuk. Kita tidak merasa paling tahu, paling hebat, atau lebih tinggi. Kita mau mendengar orang-orang yang Tuhan tempatkan untuk membimbing hidup kita.
- Kita mau menerima koreksi.
- Kita mau ditegur.
- Kita mau dibentuk.
Tuhan memakai bapak rohani, pemimpin, pasangan, teman sepelayanan, bahkan orang yang lebih muda untuk menegur kita. Itulah kerendahan hati. Takut akan Tuhan bukan berarti semua masalah pasti hilang. Orang yang takut akan Tuhan tetap bisa mengalami pergumulan. Tetapi ketika masalah datang, ia tahu kepada siapa ia harus datang.
Kesuksesan menurut dunia adalah punya uang, jabatan, rumah, kendaraan, pengaruh, dan nama. Tetapi bagi kita, sukses adalah melakukan kehendak Tuhan.
Yesus berkata: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34)
Itulah sukses. Bukan berapa banyak yang kita punya, tetapi apakah kita sudah melakukan kehendak Tuhan. Pastikan kita sudah menerima keselamatan di dalam Kristus. Pastikan hidup kita sungguh-sungguh ada di dalam Kristus. Dan kerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar (Filipi 1:12).
Ini bukan berarti kita mendapatkan keselamatan karena usaha kita. Keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Tetapi setelah diselamatkan, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan keselamatan itu dengan kesungguhan, ketaatan, dan rasa hormat kepada Tuhan.
- Kalau kita pernah gagal, bertobatlah.
- Kalau kita jatuh, bangun kembali.
- Kalau kita berdosa, minta ampun kepada Tuhan.
Jangan bersembunyi dari Tuhan. Datang kepada Tuhan (1 Yoh. 1:9).
Jangan sampai kita terlalu nyaman sehingga tidak lagi memikirkan keselamatan jiwa-jiwa. Jangan sampai kita hanya memikirkan:
- “Yang penting saya diberkati.”
- “Yang penting keluarga saya baik.”
- “Yang penting usaha saya lancar.”
- “Yang penting saya sehat.”
Tetapi bagaimana dengan orang lain?
Bagaimana dengan keluarga yang belum mengenal Yesus? Bagaimana dengan generasi muda? Bagaimana dengan kota kita? Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan Indonesia?
Tuhan memberikan kita berkat bukan supaya kita berhenti di zona nyaman.
· Tuhan memberkati kita supaya kita menjadi berkat.
· Tuhan memberikan kita pengaruh supaya pengaruh itu dipakai untuk Kerajaan Allah. Tuhan memberikan kita kesehatan supaya tenaga kita dipakai untuk Tuhan.
· Tuhan memberikan kita umur supaya hidup kita menghasilkan buah.
· Tuhan memberikan kita sumber daya supaya kita dapat mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya.
Kita bersyukur Indonesia memasuki usia ke-81. Kita berdoa supaya Indonesia menjadi bangsa yang semakin berdaulat, adil, dan makmur. Kita tahu masih banyak yang belum merata. Masih ada ketidakadilan, kemiskinan, dan berbagai persoalan sosial.
Karena itu gereja tidak boleh berhenti berdoa. Terus berdoa untuk Indonesia.
- Jangan berhenti dalam doa puasa.
- Jangan berhenti dalam doa keliling.
- Jangan berhenti membangun mezbah doa.
Karena kita percaya Indonesia ada di dalam hati Tuhan. Lihatlah teladan Bunda yang terus berdoa dan mengerang bagi jiwa-jiwa. Ada beban bagi jiwa. Ada tangisan bagi jiwa. Ada kerinduan supaya orang diselamatkan. Itulah hati yang takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan mencintai jiwa-jiwa. Orang yang takut akan Tuhan menjangkau jiwa-jiwa.
Pada akhirnya kita harus kembali kepada pertanyaan: “Apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup saya?” Dan: “Apakah saya melakukan kehendak Tuhan?” Itulah sukses.
Jangan terperangkap dalam zona nyaman. Jangan hidup hanya untuk diri sendiri. Jangan habiskan waktu untuk mengejar sesuatu yang sementara. Tuhan senang ketika anak-anak-Nya melakukan kehendak-Nya, berapa pun harga yang harus kita bayar. Yesus sendiri memberikan teladan. Ia datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, tetapi kehendak Bapa.
Mari kita hidup dalam takut akan Tuhan, menjaga kekudusan, menerima koreksi, mengejar Tuhan, mengasihi jiwa-jiwa, dan menggunakan semua yang Tuhan berikan untuk melakukan kehendak-Nya dan menyelesaikan Amanat Agung.

